Tuesday, April 6, 2010

dari puisi om ku,, "Elegi Putri Derita"


Dalam menangis
Akankah ku katakan padamu
Sekalah air mata darah mu yang menyala
Jika giliran gemuruh gejolakMU yang agung
Menyemak dunia yang sekarat

Siapa yang iba atas daging daging yang terkoyak  karena kezaliman
Dan menampakkan keyakinan perkasa
Meski sekedar menghibur hati yang merana
Nuranimu di jejali mesiu dan minuman darah
Kekejian primitif hanyalah mengulur ulur ajal yang lebih niscaya...mesti..
Kekejaman yang naif takkan melukai kebanggaan memegang kebenaran


Wahai yang punya rasa
Api telah membakar semangatmu dan kepercayaanKu
Peluru tak berarti...
Bahkan melempar keraguan kita
Walau menyekap kesedihan dan kemerdekaan bagi Nya
Dukamu adalah “puasa menjelang buka”
Haruskah aku katakan”cegalah airmata darahmu?”
Sedangkan tak bisa kucegah air mataku sendiri

Sebelum maghrib
Sebentar lagi menelan keangkuhan orang yang zalim
Dan kita
Bertakbir merayakan kemenangan dan damai..kita?

Wahai yang jauh disana
Marahkah aku yang tak tahu disitu ada Neraka Jingga
Karena ulahnya hanya menyangka hijau yang ada

Ketika langit gelap dan malam tak lagi berikan mimpi
Sepasang mata bening menatap kosong
Dibalik kilatan api
Runtuhan gedung
Desingan puluru

Ketika embun tak lagi sejuk dan menampakkan kilau kristalnya
Sepasang mata memandang angkasa
Mencari merpati yang biasa terbang kesarang
Sepasang mata itu tidak menemukannya lagi
Kata siapa?

Ya Tuhan...
Teguhkanlah hatinya
Tetapkanlah dalam penantiannya

Mulanya asing dirimu
Tapi dari berita berita huruf bersulam darahmu
Akhirnya aku mendengarmu....
Mengenalmu....
Dan merasakan getar duka deritamu

Dunia cinta tak pernah menduga
Masih ada kekejaman melebihi NAZI
Tempat tempat keindahan abstrak masalalumu
Saksi paling perih dihadapanmu
Semua raya musnah lenyap ditelan kubur
Dusta penuh cerita

Betapa mahal nilai kesetiaan
Betapa murah nilai kebohongan
Yang dijejakan bertubi tubi dihinakan
Di depan murininya cinta

Yang kurindu bukanlah pintu jerit tangismu yang hiasi tawa durjana
Syukurilah hikmah yang terselubung duka
Dunia menyaksikan.....
Yang punya jiwa merasakan ...
Kata rindumu membakar semangat hidup kita
Karena masa depan kita sama meski masalah kita berbeda
Sebercik noda
Seribu langkah kan kau bawa
Disinilah kusuguhkan secercah cahaya bagi langkah-langkah yang pasti ceria

0 comments:

Post a Comment