Jumat, 29 Oktober 2010

Makalah : Persepsi Interpersonal

KATA PENGANTAR

    Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Tanpa pertolongan - Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Persepsi Interpersonal, yang kami sajikan berdasarkan berbagai sumber.Baik Buku maupun Internet.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Psikologi Komunikasi,Bapak ASMINTO,S.PSi
yang telah membimbing penyusunan Makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna,oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini.

Akhir kata kami ucapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.


 


 


 

Palembang, 21 Oktober 2010


 


 


 

Aji Supeno Bagus Syam (09191001)


 


 


 


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................,,,,...........1

DAFTAR ISI........................................................................................................2

    

BAB I

PENDAHULAN.....................................................................................................3


 

BAB II

PEMBAHASAN.....................................................................................................4

  1. Persepsi Interpersonal...................................................................................5
  2. Pengaruh Faktor-faktor Situasional pada Persepsi Interpersonal............6
    1. Deskripsi Verbal........................................................................................6
    2. Petunjuk Prokesemik/Proxemiks.............................................................7
    3. Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues).............................................................8
    4. Petunjuk wajah..........................................................................................9
    5. Petunjuk Paralingustik...........................................................................10
    6. Petunjuk Artifaktual................................................................................11
  3. Pengaruh Faktor-faktor Personal pada Persepsi interpersonal..............12
    1. Pengalaman............................................................................................12
    2. Motivasi...................................................................................................13
    3. Kepribadian.............................................................................................13
  4. Proses Pembentukan Kesan.......................................................................14
    1. Stereotyping............................................................................................14
    2. Imlplicit Personal Theory.......................................................................15
    3. Atribusi....................................................................................................15
  5. Proses Pengolahan Kesan..........................................................................16
  6. Pengaruh Persepsi Interpersonal pada komunikasi Interpersonal.........17


 

    BAB III

    PENUTUP

KESIMPULAN.....................................................................................................18


 

    DAFTAR PUSTAKA............................................................................................19

Bab I

PENDAHULUAN


 

Semenjak Manusia dilahirkan Komunikasi adalah ilmu dan anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa, kita mulai mengenal dan memahami sekeliling kita, beradaptasi, memaknai setiap hakekat. Menuangkan gagasan dalam sebuah susunan komunikasi dan Bahasa. Komunikasi adalah sebuah transaksi yang sangat purba. Dan masih kita pakai hingga sekarng.

Manusia adalah "zoon politicon" saling membutuhkan satu sama lainnya, yang sering kita sebut sebagai makhluk sosial. Keberadaan kelompok atau individu lain adalah kepastian dan keharusan, kita tidak bisa hidup sendiri didunia ini. Bahkan Tarzan pun tak bisa. Kita tak hanya membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup kita seperti makan dan pakaian, tetapi kita juga memerlukan orang lain untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi.

Komunikasi pun menurut beberapa ahli dibedakan menjadi beberapa kelompok salah satunya yaitu komunikasi Interpersonal atau Komunikasi Antar pribadi yang melibatkan 2 atau 3 orang saja. Memang hal itu pun masih sederhana bila untuk membahas komunikasi interpersonal, namun ketika kita kaitkan antara Komunikasi Interpersonal dengan Persepsi Interpersonal maka kita akan melihat bagaimana luas pembahasan 2 atau 3 orang saja.

Pada kesempatan ini Penyusun akan memaparkan persepsi interpersonal dan kaitannya terhadap komunikasi. Faktor faktor yang mempengaruhnya juga kendala dan manfaat membahasnya.

Dan semoga makalah ini memberikan masukan positif bagi pembacanya pada umumnya. Dan penyusun pada khususnya


 

Bab II

PEMBAHASAAN


 

Didalam komunikasi interpersonal sering kali kita menciptakan persepsi terhadap person/individu yang kita aja berkomunikasi, menilai seseorang yang baru kita kenal, belum kita kenal, atau bahkan yang telah kita kenal lama adalah suatu keniscayaan, terkadang persepsi itu tepat, atau bahkan melenceng. Namun itu lah sifat dari manusia. Manusia yang satu dan manusia yang lain selalu ingin saling mengenal. Maka persepsilah yang akan banyak membantu kita dalam berkomunikasi interpersonal.

Dalam makalah ini kami akan membahas keterkaitan antara persepsi interpersonal dengan komunikasi interpersonal. Juga faktor faktor yang mempengaruhinya.

Komunikasi adalah pertukaran lambang lambang yang transaksional dan harus diterjemahkan kedalam sebuah makna. Baik lambang lambang verbal atau non-verbal. Pemaknaan itu pula yang akan memberikan persepsi terhadap suatu personal.

Dalam kaitannya Komunikasi Interpersonal atau komunikas Antar Pribadi sangat berkaitan dengan Persepsi Interpersonal. Antara kedua hal itu saling berhubungan dan tidak bisa kita pisahkan. Ketika kita sedang melakukan Komunikasi interpersonal secara bersamaan pula kita melakukan persepsi terhadap komunikan yang kita aja berkomunikasi.


 


 

  1. Persepsi Interpersonal


     

Pernahkah kita menjumpai seseorang yang duduk nongkrong (Jongkok) dipinggir jalan di sore hari, lalu matanya terkadang semu memandang dan sesekali melihat lalu lalang kendaraan yang lewat dihadapannya sambil menghisap sepuntung rokok. Dengan baju kemeja lengan panjang, namun tak rapi, lusuh dengan membuka 3 kancing bajunya. Apa yang anda pikirkan tentang orang itu? Kita sering kali mempersepsi orang tersebut sebagai pengguran yang malas berkerja, atau tak pernah dapat kerja. Atau dia adalah seseorang yang baru saja dibebas tugaskan dari pekerjaannya. Sambil pusing memikirkan nasib hidupnya dikemudian hari. Tapi apakah benar orang itu seperti yang kita persepsi. Bisa saja orang tersebut adalah juru parkir ilegal. Atau seorang pekerja yang baru saja pulang dari pekerjaannya sambil beristrahat melepas lelahnya.

Persepsi Interpersonal didefinisikan sebagai "memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal" (Jalaludin Rakhmat, 2005) kita pun bisa menyadari bahwa ternyata kita pun hidup dalam persepsi orang lain. Dan orang lain pun hidup dalam persepsi kita.

Agar tidak mengkaburi antara antara persepsi interpersonal dengan persepsi objek. Jalaludin Rahmat memberikan empat perbedaan antara persepsi interpersonal dengan persepsi objek :

"Pertama, pada persepsi objek, stimuli ditangkap oleh alat indera kita melalui benda-benda fisik; gelombang, cahaya, gelombang suara, temperature, dan sebagainya; pada persepsi interpersonal, stumuli mungkin sampai kepada kita melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan fihak ketiga.

Kedua, bila kita menanggapi objek, kita hanya menanggapi sifat-sifat luar obyek itu; kita tidak meneliti sifat-sifat batiniyah obyek itu. Pada persepsi interpersonal kita mencoba memahami apa yang tampak pada alat indera kita.

Ketiga, ketika kita mempersepsi objek, objek tidak bereaksi kepada kita; kita pun tidak memberikan reaksi emosional padanya. Dalam persepsi interpersonal, faktor-faktor personal anda, dan karakteristik orang yang ditanggapi serta hubungan anda dengan orang tersebut, menyebabkan persepsi interpersonal sampai cenderung untuk keliru.

Keempat, objek relatif tetap, sedangkan manusia berubah-ubah. Persepsi interpersonal yang berobjekkan manusia kemudian menjadi mudah salah." (Jalaludin Rachmat, 2005:81-82)


 

  1. Pengaruh Faktor-faktor Situasional pada Persepsi Interpersonal


 

Dalam mempersepsi seseorang kita dapat melihatnya dari faktor faktor Situasional. Yaitu situasi yang bisa kita amati saat kita berjumpa dengan orang lain. Dimana kita cenderung secara spontan telah memberi makna terhadap faktor faktor tersebut, yang antara lain adalah Deskripsi Verbal, Petunjuk kinesik, Petunjuk Wajah, dan Petunjuk Artifaktual.

B.1 Deskripsi Verbal

Bahasa adalah anugrah Tuhan, bahasa telah menuntun kita untuk lebih tepat mempersepsi. Karena Bahasa adalah kesepakatan. Bahasa memiliki arti dan makna, kita dapat membaca makalah ini dan memahaminya karena kita telah mengerti, dan memahami makna dari bahasa bahasa Tulisan ini. Kita tidak bisa mengartikan kata Aku lapar sebagai aku telah makan. Itulah mengapa Deskripsi Verbal berada pada faktor situasional pertama dalam mempersepsi orang lain.

Menurut eksperimen Solomon E. Asch, bahwa kata yang disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect. Menurut teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian kita tentang orang lain. Jika kata tersebut berada ditengah rangkaian kata maka disebut central organizing trait.(dalam Jalaludin Rakhmat,2005)

Contoh, Kata Sang dan Si yang dihubungkan dengan kata Raja, makna yang ter stimulus pada kata Sang Raja akan berbeda dengan makna yang terstimulus pada kata Si Raja . Sang akan kita maknai sebagai sesuatu Agung dan baik, sedangkan Si akan kita maknai sebagai sesuatu yang kecil, bahkan terkadang buruk. Dari pemaknaan itu kita akan lebih mudah memadupadankan kata kata berikutnya, Sang Raja yang adil, dan bijaksana. Lalu bagaimana dengan Si, Si Raja yang korup, jahat, kejam dan bertangan besi.

Dari bahasa pun kita akan menciptakan pengaruh personal pada persepsi Interpersonal. "Bahasa bukan hanya membagi pengalaman, Tetapi juga membentuk pengalaman itu sendiri" (Lee Whorf dalam Hafied Cangara 2003:105) coba seberapa banyak pengalaman kita yang terbentuk karena bahasa?


 


 

B.2 Petunjuk Prokesemik/Proxemiks


 

Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak daam menyamaikan pesan; istilah ini dilahirkan oleh antroplog intercultural Edward T. Hall

"Postur dan jarak tubuh, menurut Hall, adalah reaksi yang tidak disengaja ketika ada fluktuasi pada kerja panca indera, seperti perubahan yang tidak kasat mata pada suara dan nada bicara seseorang. Jarak sosial antar manusia dapat dipercaya berhubungan dengan jarak fisik, yang terdiri dari jarak intim dan jarak personal, kemudian dibagi lagi sebagai berikut:

  • Jarak intim ketika berpelukan, berpegangan atau berbisik
    • Bentuk dekat - kurang dari 15 cm
    • Bentuk jauh - 15 sampai 45 cm
  • Jarak personal ketika berinteraksi antar teman akrab
    • Bentuk dekat - 45 sampai 75 cm
    • Bentuk jauh - 75 sampai 120 cm
  • Jarak sosial ketika bertemu dengan kenalan
    • Bentuk dekat - 1.2 sampai 2.1 m
    • Bentuk jauh - 2.1 sampai 3.6 m
  • Jarak publik ketika berhubungan dengan masyarakat
    • Bentuk dekat - 3.6 sampai 7.5 m
    • Bentuk jauh - 7.5 m lebih" (dalam Wikipedia)


 

Ketika kita merasa "GR"(gede rasa) saat lawan jenis menggandeng/saling bergandengan tangan dengan kita ketika menyebrang jalan yang ramai. Dan terbesit dalam pikiran kita bahwa dia sangat perhatian dan sayang pada kita? Kejadian seperti ini adalah contoh yang menggambarkan Faktor Situasional Proksemik yang mempengaruhi persepsi kita terhadap orang lain. Mungkin hal yang berbeda akan kita rasakan bila lawan jenis kita justru berada lebih dari 1 meter dari kita saat menyebrang jalan meski ia adalah pacar yang sangat anda sayang.


 


 


 


 

B.3 Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)

Petunjuk kinesik adalah persepsi yang didasarkan kepada gerakan orang lain yang ditunjukkan kepada kita. Beberapa penelitian membuktikan bahwa persepsi yang cermat tentang sifat-sifat dari pengamatan petunjuk kinesik. Begitu pentingnya petunjuk kinesik, sehingga apabila petunjuk-petunjuk lalin (seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk kinesik, orang mempercayai yang terakhir. Mengapa? Karena petunjuk kinesik adalah yang paling sukar untuk dikendalikan secara sadar oleh orang yang menjadi stimuli (selanjutnya disebut persona stimuli-orang yang dipersepsi;lawan dari persona penanggap) (Jalaludin Rahmat, 2005)

Hafied Cangara(2003:110) mengatakan Kinesik ialah kode non-verbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan. Yang dibedakan menjadi lima macam

  1. Emblems, ialah isyarat yang punya arti langsung pada simbol yang dibuat oleh gerakan badan. Contoh, acung jempol berarti yang terbaik untuk orang Indonesia
  2. Illustrator, ialah isyarat yang dibuat dengan gerakan-gerakan badan untuk menjelaskan sesuatu, misalnya membuka telapak tangan kebawah setinggi pinggul untuk menunjukkan objek yang dimaksud pendek.
  3. Affect displays, ialah isarat yang terjadi karena adanya dorongan emosional sehinggat berpengaruh pada ekspresi muka, misalnya tertawa, menangis, tersenyum dan sebagainya.
  4. Regulators, ialah gerakan-gerakan tubuh yang terjadi pada daerah kepala, menggaruk garuk kepala tanda bingung, mengangguk tanda setuju, dan menggeleng tanda menolak.
  5. Adaptory, ialah gerakan badan yang dilakukan sebagai tanda kejengkelan. Misalanya meggerutu, mengepalkan tinju, membunyikan sendi sendi tangan.

Selain gerakan badan yang dilakukan oleh kepala dan tangan, juga gerakan gerakan kaki bisa memberi isyarat seperti halnya posisi duduk, berkacak pinggang dan sebagainya.


 

B.4 Petunjuk Wajah


 

Dale G. Leather mengatakan "Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Kita menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan mereka,pada gilirannya, menelaah kita."( dalam Jalaludin Rahmat, 2005:87)

Bahkan di zaman teknologi telekomunikasi seperti sekang ini, dimana komunikasi interpersonal juga dapat dilakukan dari jarak jauh. kita telah memiliki dan mengenal beberapa petunjuk wajah didalam teks-teks SMS atau chating seperti kode : ) yang menunjukkan senyum, bahagia, senang :( yang menunjukkan kesedihan, coba perhatikan lagi kode emosional seperti : D , : p, : o , ^_^ , 0_o , >_< dan masih banyak lagi kode kode lainnya yang menggambarkan petunjuk wajah si komunikator. Benar kata Leather wajah sangat penting dalam menyampaikan makna.

Mata yang merupakan subsistem dari sistem wajah pun memliki peran yang besar dalam menimbulkan persepsi. "mata adalah alat komuniksi yang paling berarti dalam memberi isyarat tanpa kata......bahkan ada yang menilai gerakan mata adalah pencerminan isi hati seseorang ".(Hafield Cangara 2003:112)

Walaupun petunjuk fasial(wajah) dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang mempersepsi emosi itu dengan cermat. Ada yang sangat sensitive pada wajah, ada yang tidak. Ini tergantung pada kepekaan komunikan dalam menerima stimulus dari petunjuk wajah komunikator.


 


 


 

B.5 Petunjuk Paralingustik


 

Menurut Jalaludi Rahmat (2005:87)Paralinguistik ialah cara orang mengucapkan lambang-lambang verbal. Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan apa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi-rendahnya suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan).

Misalnya ketika seseorang anak mengatakan pada Ayahnya Aku ingin pergi kerumah teman malam ini dengan terbatah batah. Itu menunjukkan kegugupan, dan bisa saja ayahnya justru berpersepsi anaknya telah berusaha membohonginya. Dan Suara keras Ayahnya mengatakan Hey, kamu bohong ya ? itu menunjukkan kemarahan ayah.

Namun suatu kesalahan sering sekali terjadi bila komunikasi berlangsung dari etnik berbeda atau yang berlatar belakang berbeda. Misalnya contoh Anak dan Ayah tadi. Bagaimana bila ternyata mereka berasal dari etnik Batak dan anaknya memang gagap? Penafsiran pun akan berbeda bila kita yang berasal dari etnik lain dan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada anak dan ayah tersebut.


 


 

B.6 Petunjuk Artifaktual


 

"Pakaian dan gaya tidak membentuk kepribadian seseorang namun ketika kepribadian seseorang terbentuk kedua hal tersebut sangat menunjang penampilannya"(Henry Ward Beecher dalam Henry Russell:2006) kata kata Beecher tersebut mungkin ada benarnya. Terkadang orang akan mempersepsi kita dari cara berpakaian dan bergaya. Mungkin hal seperti ini pula yang menimbulkan suatu manner tertentu dalam berbagai macam adat kebudayaan.

"Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya. Petunjuk verbal juga mempunyai peran. Yang dimaksud dengan petunjuk verbal disini adalah isi komunikasi persona stimuli, bukan cara. Misalnya, orang yang menggunakan pilihan kata-kata yang tepat, mengorganisasikan pesan secara sistematis, mengungkapkan pikiran yang dalam dan komprehensif, akan menimbulkan kesan bahwa orang itu cerdas dan terpelajar." (Jalaludin Rahmat,2005:88)

Namun Kecenderungan kita beranggapan orang cantik akan memiliki sifat yang periang atau yang berparas jelek memiliki sifat penyedih.itu dinamakan halo effect .


 


 

  1. Pengaruh Faktor-faktor Personal pada Persepsi interpersonal


 

Kecermatan persepsi interpersonal bukan hanya berpengarah pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Kualitas komunikasi interpersonal kita akan lebih didukung dengan kecermatan persepsi.

Pada bagian ini kita justru tidak membahas tentang proses persepsi itu sendiri malainkan faktor-faktor personal yang mempengaruhi kecermatan persepsi. Faktor faktor personal seperti Pengalaman, Motivasi dan Kepribadian.


 


 

C.1 Pengalaman


 

Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi.(Jalaludin Rahmat,2005:89) Penglaman sangat mempengaruhi kecermatan persepsi, terkadang pengalaman sangat membantu tapi pengalaman pula kerap kali yang membuat kita terbelenggu dalam mempersepsi. Contoh seorang ibu lebih berpengalaman mempersepsi anaknya ketimbang seorang bapak. Karena seorang ibu lah yang lebih mengenal/pengalaman mendidik anaknya. Ketika anaknya berbohong pun sang ibu akan segera tahu hanya dengan memperhatikan bahasa non-verbal anak tersebut.

Ary Ginanjar Agustian(2001:62) mengatakan "Bebaskan diri Anda dari pengalaman yang membelenggu pikiran, dan berpikirlah merdeka" . terkadang kita menjadikan pengalaman sebagai post of percept. Misalnya, munculnya lagu "Tidak semua laki laki milik Basofi yang seolah menceritakan seorang gadis yang berulang kali gagal dalam hubungan cintanya. Lalu memberikan kesan kepada setiap laki laki itu jahat" pada sub selanjutnya kita akan membahas tentang pembentukan kesan. Pengalamanhidup dan kejadian-kejadian yang dialami seseorang berperan dalam menciptakan pemikiran atau pradigma dalam dirinya. Seringkali pradigma itu dijadikan "kaca mata"
dan tolak ukur bagi dirinya, juga dalam menilai lingkungan disekitarnya. Hal tersebutakan membatasi cakrawala berpikir seseorang, karena ia akan menilai segalanya berdasarkan "frame" berpikrinya sendiri, atau melihat berdasarkan bayangan ciptaanya sendiri, bukan melihat sesuatu secara riil dan obyektif.(Ary Ginanjar Agustian, 2001:61)


 


 

C.2 Motivasi


 

Motivasi lebih menstimulus kita untuk melakukan respon, misalnya ketika kita lelah kita akan lebih memilih untuk beristirahat.

Motivasi yang sering mempengaruhi persepsi interpersonal adalah kebutuhan untuk mempercayai "dunia yang adil" artinya kita mempercayai dunia ini telah diatur secara adil (Jalaludin Rahmat ,2005:90)


 


 

C.3 Kepribadian


 

Secara kasar definisi Kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap tiap individu manusia(Koentjaraningra, 2009:83) kepribadian komunikator dan komunikan sangat mempengaruhi persepsi yang ada.

Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melempar perasaan bersalahnya pada orang lain. Maling teriak maling adalah contoh tipikal dari proyeksi. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Sudah jelas, orang yang banyak melakukan proyeksi akan tidak cermat menanggapi persona stimuli, bahkan mengaburkan gambaran sebenarnya. Sebaliknya, orang yang menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak dibebani perasaan bersalah, cenderung menafsirkan orang lain lebih cermat. Begitu pula orang yang tenang, mudah bergaul dan ramah cenderung memberikan penilaian posoitif pada orang lain. Ini disebut leniency effect (Basson dan Maslow dalam Jalaludin Rahmat, 2005:91)


 


 

  1. Proses Pembentukan Kesan


 

Kesan yang muncul akan membawa kita menentukan persepsi. Juga sebaliknya persepsi juga akan membuat kita memberikan kesan terhadap orang lain.

Komunikasi yang nyaman muncul dari persepsi dan kesan yang positif. Bertemu dengan orang yang sudah kita takuti, sudah kita segani cenderung akan membuat kita tidak nyaman saat berkomunikasi.

Proses pembentukan kesan menurut jalaludin rahmat (2005) terdiri dari Stereotyping, Imlplicit Personal Theory dan Atribusi.


 

D.1 Stereotyping


 

Stereotipe adalah pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu, dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk dalam kelompok tertentu tersebut. Stereotipe dapat berupa prasangka positif dan negatif, Sebagian orang menganggap segala bentuk stereotipe negatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang (wikipedia)

Stereotyping ini juga menjalaskan terjadinya primacy effect dan halo effect yang sudah kita jelaskan dimuka. Primacy effect secara sederhana menunjukkan bahwa kesan pertama amat menentukan; karena kesan itulah yang menentukan kategori. Begitu pula, halo effect. Persona stimuli yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang positif, dan pada kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik(Jalaludin Rahmat , 2005:92)


 

D.2 Implicit Personality Theory

Memberikan kategori berarti membuat konsep. Konsep "makanan" mengelompokkan donat, pisang, nasi, dan biscuit dalam kategori yang sama. Konsep "bersahabat" meliputi konsep-konsep ramah, suka menolong, toleran, tidak mencemooh dan sebagainya. Disini kita mempunya asumsi bahwa orang ramah pasti suka menolong, toleran, dan tidak akan mencemooh kita. Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat apa yang berkaitan dengan sifat-sifat apa. Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang ketika membuat kesan tentang orang lain. Teori ini tidak pernah dinyatakan, kerena itu disebut implicit personality theory. Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua psikolog, amatir, lengkap dengan berbagi teori kepribadian. Suatu hari anda menemukan pembantu anda sedang bersembahyang, anda menduga ia pasti jujur, saleh, bermoral tinggi. Teori anda belum tentu benar, sebab ada pengunjung masjid atau gereja yang tidak saleh dan tidak bermoral. (Jalaludin Rahmat ,2005 :93)


 

D.3 Atribusi

Jalaludin Rahmat(2005:93-97) memaparkan lebih luas mengenai atribusi

Atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak (Baron dan Byrne)

Fritz Heider (1958) adalah yang pertama menelaah atribusi kausalitas. Menurut Heider, bila kita mengamati perilaku sosial, pertama-tama kita menentukan dahulu apa yang menyebabkannya; factor situasional atau personal; dalam teori atribusi lazim disebut kausalitas eksternal dan kausalitas internal (Jones dan Nisbett, 1972).

Bagaimana kita mengetahui bahwa perilaku orang lain disebabkan factor internal, dan bukan factor eksternal? Menurut Jones dan Nisbett, kita dapat memahami motif persona stimuli dengan memperhatikan dua hal. Pertama, kita memfokuskan perhatian pada perilaku yang hanya memungkinkan satu atau sedikit penyebab. Kedua, kita memusatkan perhatian pada perilaku yang menyimpang dari pola perilaku yang biasa.

Menurut teori atribusi dari Harold Kelly (1972), kita menyimpulkan kausalitas internal atau eksternal dengan memperhatikan tiga hal: konsensus, -apakah orang lain bertindak sama seperti penanggap; konsistensi – apakah penanggap bertindak yang sama pada situasi lain; dan kekhasan (distinctiveness) –apakah orang itu bertindak yang sama pada situasi lain, atau hanya pada situasi ini saja. Menurut teori Kelly, bila ketiga hal itu sangat tinggi, orang akan melakukan atribusi kausalitas eksternal.

Sekarang bagaimana kita dapat menyimpulkan bahwa persona stimuli jujur atau munafik (atribusi kejujuran-attribution of honesty)? Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne (1979:70-71), kita akan memperhatikan dua hal: (1) sejauh mana pernyataan orang itu menyimpang dari pendapat yang popular dan diterima orang, (2) sejauh mana orang itu memperoleh keuntungan dari kita dengan pernyataan itu.


 


 

  1. Proses Pengolahan Kesan

Kecermatan persepsi interpersonal dimudahkan oleh petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal, dan dipersulit oleh factor-faktor personal penangkap. Kesulitan persepsi juga timbul karena persona stimuli berusaha menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu pada diri penangkap. Erving Goffman menyebut proses ini pengelolaan kesan (Impression management).

Peralatan lengkap yang kita gunakan untuk menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner). Panggung adalah rangkaian peralatan ruang dan benda yang kita gunakan. Penampilan berarti menggunakan petunjuk artifaktual. Gaya bertingkah laku menunjukkan cara kita berjalan, duduk, berbicara, memandang, dan sebagainya.


 

  1. Pengaruh Persepsi Interpersonal pada komunikasi Interpersonal


     

Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi interpersonal. Karena perspsi yang keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi. Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin salah. Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru. Kita jarang meneliti kembali persepsi kita. Akibat lain dari persepsi kita yang tidak cermat ialah mendistorsi pesan yang tidak sesuai dengan persepsi kita. Persepsi kita tentang orang lain cenderung stabil, sedangkan persepsi stimuli adalah manusia yang selalu berubah. Adanya kesenjangan antara persepsi dengan realitas sebenarnya mengakibatkan bukan saja perhatian selektif, tetapi juga penafsiran pesan yang keliru.


 

Bab II

PENUTUP

Kesimpulan


 

Semakin kita cermat memberikan persepsi dan memanfaatkannya, kita akan lebih berpotensi berhasil dalam berkomunikasi Antar persona. Persepsi yang cermat memang sangat membantu. Tetapi karena objek yang kita amati ini adalah manusia. Maka persepsi yang terbentuk sering kali berbeda hasilnya antara pengamat yang satu dengan pengamat yang lain. Dan kadang berbeda pula dengan konsep diri, dan realita yang sebenarnya. Betapapun sulit mempersepsi kita ternyata masih berhasil bergaul dengan mereka. Masih dapat berkomunikasi dengan baik. dan memahaminya.


 

Daftar Pustaka


 

Agustian, Ary Ginanjar. ESQ: Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: ARGA

Publishing, 2009.

Cangara, Hafied. PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI. Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada, 2003.

Koentjaraningrat. PENGANTAR Ilmu Antropologi. Jakarta:PT. Rineka Cipta.2009.

Rakhmat,Jalaludin. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya 2005.

Russel, Henry.Etiket: Tips Pergaulan Internasional. Yogyakarta: Penerbit Kansius

2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Proxemiks

http://id.wikipedia.org/wiki/Stereotipe


 

0 komentar:

Poskan Komentar