Tuesday, October 26, 2010

Sejarah Bukan Kitab Suci

beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan sebuah kata di status Facebook saya disitu saya menulis "Sejarah Bukan Kitab Suci, dan Mereka Bukan Tuhan"
Status itu saya renungkan selama berbulan bulan. meneliti kembali kebiasaan berpikir kita, tentang masa lalu yang terus membelunggu kita, membelenggu persepsi kita, membelenggu hati nurani, dan jiwa kemanusiaan kita, membelunggu kebenaran.
Oke, mungkin anda masih bingung dengan perkataan saya, tapi coba kita lihat masa lalu kita yang begitu mengatur sikap. contoh, tadi saya membaca sebuah status sebuah Media surat kabar di Malaysia. yang memberitakan tentang beberapa bencana alam di Indonesia saat ini, seperti Gempa di Sumatra Barat yang menciptakan Tsunami setinggi 3 Meter, dan Gunung Merapi yang mulai meluahkan lava, dan debu vulkaniknya. beberapa orang memberikan bela sungkawa, dan Do'a. Namun ternyata banyak pula yang justru memberikan nada sebaliknya, seperti menghasut untuk tidak memberikan bantuan se ringgit pun.atau justru memberikan kata kataan terhadap Indonesia, mengutuk balik Indonesia. Anehnya lagi suku seperti Jawa pun tak lepas dari kata kataan itu. padahal bencana yang menurut saya lebih banyak menelan korban justru ada di Papua dan Sumatra Barat.
Contoh itu sebenarnya bukan maksud saya untuk menimbulkan sensitifitas yang negatif dan menghasut balik lagi, saya pun memaklumi sikap mereka, apa yang mereka lakukan adalah (mungkin) balasan dari sikap beberapa oknum di Indonesia. Seperti pembakaran Bendera jalur gemilang, pelemparan tinja ke Kedubes Malaysia. serangan hecker . Demonstrasi Anti Malaysia, Sebutan sebutan negatif, dan banyak lagi yang lainnya, yang pasti hal itu menginjak harga diri bangsa mereka.
Namun Contoh tersebut jelas bahwa sejarah/masa lalu telah menjadi kitab suci bagi mereka, sejarah telah membelenggu pemikiran kita.
disini saya tak mengajak untuk berbicara soal negara. tapi berbicara tentang Nurani. dan kemanusiaan. Saya pun sangat menyayangkan pula bila mengingat kejadian dahulu, kenapa beberapa oknum di Indonesia begitu membenci negara tetangganya?  dan sering kali menghasut untuk mengajak membenci. Alasan mereka memang banyak, seperti Sejarah dahulu di tahun 60an. hingga masalah-masalah aktual seperti tentang kebudayaan dan perbatasan. Tapi mengapa setiap masalah yang telah berlalu mesti kita jadikan kitab suci untuk menghukumi suatu orang atau kelompok? bukan kah itu menunjukkan pola pikir kita yang sempit?

Dahulu kita hanya hidup berkelompok kelompok dan bersuku suku. namun ketika kita mengenal Nasionalisme, mengapa kita memandang sempit sikap kesukuan itu? lalu ketika zaman terbuka, dan kini kita kenal dengan Globalisasi mengapa Nasionalisme justru membutakan Nurani kita. Menutup Mata bahwa ada manusia lain, yang sama seperti kita yang tinggal dan hidup dibelahan dunia yang lain.

Oh Tuhan, semoga aku tak salah berpikir.

kenapa kita tak pernah arif memandang sejarah, menjadikan sejarah alat politik, menjadikan sejarah kitab suci, menjadikan sejarah sebagai bahasa pemrograman ulang pikiran kita. Sejarah membuat kita seperti Robot. lalu siapa manusia? manusia setengah robot itu manusia kah? manusia yang melihat manusia lain bukan manusia itu manusia kah? Mereka yang rela memberikan makan kepada hewan peliharaannya ketimbang memberi makan mereka yang kesusahan. manusia kah?

ingatlah bahwa manusia itu bukan hanya orang didalam keluargamu, bukan hanya orang dalam RT mu, bukan hanya orang dalam sukumu, bukan hanya satu daerah mu, bukan hanya satu negaramu, bukan hanya satu benuamu.

Saya belom liat bagiamana hari ini, isi forum forum tentang bencana alam akhir akhir ini. apakah mereka hanya ribut ribut saja di internet? atau mereka tergerak untuk berbuat. Saya percaya Negara Negara yang diberi cobaan dari Allah itu justru negara yang kuat dan Hebat. lihat bagaiman Palestina. tak banyak dari kita bisa membantu, tapi mereka survive. Mereka tak gentar terus berjuang meski mereka selalu didera. Indonesia pun begitu, gak cuma saat ini saja. tapi jauh ratusan tahun lalu. bahkan ribuan tahun yang lalu, pulau pulau yang kini menjadi gugusan Indonesia sudah sering terkena bencana. tapi lihat apa yang terjadi. Indonesia tak pernah kehilangan Asa. Mereka selalu optimis, Mentari selalu terbit dari Timur Indonesia. Harapan tak pernah hilang, Harapan selalu ada. lihat bagaimana hebatnya mereka, negara negara yang dicoba banyak masalah. masalah itu bagi mereka sama seperti angin yang menerbangkan layang layang..Melambung kian tinggi. yang penting, Selalu gunakan Nurani, akal sehat dan semangat bersatu.

Semoga Allah membimbing kita untuk tetap memberikan yang terbaik.


Info : Bantuan Dana untuk Korban Gempa mentawai atau dapat diberikan melalui:
Donasi Melalui SMS *811#
Bersama untuk kemanusian di era digital, mari berdonasi melalui layanan sms. Untuk para pengguna Telkomsel, silahkan ketik *811#, pilih PMI (2), lalu ikuti petunjuk selanjutnya.   
Donasi Bencana Umum
1. Bank Mandiri KCP Jakarta Krakatau Steel, No.Rekening 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia   
2. Bank Rakyat Indonesia (BRI) KC Jakarta Pancoran, No.Rekening 0390-01-000030-3, atas nama Palang Merah Indonesia
3. Bank Central Asia (BCA) KCU Sudirman, No.Rekening 035.311223.3, atas nama Kantor Pusat PMI (Perhimpunan PMI)
Donasi Menggunakan Mata Uang Dollar Amerika (USD)
Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Baja, No. Rekening: 070-00-0584905-9, Atas nama: Palang Merah Indonesia.

Humas PMI +62.21.7992325
E Mail : pmi@pmi.or.id

0 comments:

Post a Comment