Sunday, November 7, 2010

Media Online Vs Media Massa (mereka masih kuat)


Hari ini sebenarnya saya memiliki banyak cerita yang ingin saya bagi. Tapi tampaknya Tulisan ini yang lebih mendorong saya untuk segera menuliskannya. Walau saya yakin pula bahwa akan ada kekurangan disana sini.
Tadi malam ada seorang teman mengirim sebuah pesan via Inbox Facebook, pesan itu diberi judul Tirani Dwitasari. Wooww saya terkejut dengan awal Inbox yang ngajak berbisnis.Apa tirani ngajak bisnis saya ya??wkwkwkw Nah teman saya itu menanyakan tentang Tirani yang begitu populer di Internet. Hmm banyak tanya juga temanku itu. Sebenarnya saya pernah membahas soal Iklan Tirani (rada bingung sih, banyak banget namanya) di artikel saya terdahulu lihat. Tapi kali ini saya membahasnya dari sudut pandang lain.
Dan ketika saya sedang duduk di kelas Kapita Selekta Komunikasi. Kami mendapat tugas dari dosen untuk mencari kekurangan dan kelebihan jurusan lain di fakultas ilmu komunikasi. Public Relation dan Jurnalistik adalah jurusan yang paling banyak minatnya. Bagi anak Jurnalistik harus menganalisa PR, begitu sebaliknya. Beberapa Pertanyaan yang menyentil pikiran saya ketika teman teman dari PR mengatakan bahwa, Apakah wartawan Koran masih bisa tetap eksis di kemudian harinya. Setelah Media online mulai bertebaran. Seperti Kapanlagi.com , Detik.com,  dan media media lainnya.
Oke, dua hal itu yang membuat saya berpikir, apakah media online benar benar akan menggerus media konvensional?
Hipotesis saya Media massa masih tetap Perkasa. Hehehe walau saya seorang blogger namun saya tetap mengakui kehebatan Media massa, meski banyak orang juga tidak mau/jarang  menganggapnya.
Internet, dalam klasifikasinya masih mengalami perdebatan, Namun banyak oang yang menganggap Internet adalah media nir massa dan bukan media massa. Alasannya sangat simpel, kriteria yang dimiliki media massa belum bisa diterapkan pada media Online. Beberapa diantaranya adalah  Keserempakan, disini yang dimaksud keserempakan adalah keserempakan massa menerima pesan. Sebagai contoh. Ketika saya memilih channel TvOne maka apa yang diterima oleh saya, sama pula yang diterima oleh jutaan pemirsa TvOne di Indonesia. Ketika saya membaca Koran pagi Sumatra Ekspres hari ini, yang saya baca pun sama dengan seribuan pembaca Sumatra ekspres lainnya. Koran gak menerbitkan lagi kan berita berita lama.* Maaf saya katakan jutaan dan ribuan hanya untuk menggambarkan banyaknya penikmat media itu, Bukan hitungan sebenarnya*. Hal itu pula yang tidak bisa dilakukan oleh media nir massa seperti internet, Sebagai contoh, hey kamu lihat posting di blog ini, ?lihat tanggal berapa kamu bacanya? Dah berapa lama kamu gak buka blog saya semenjak saya terbitkan posting ini ? Seandanya tulisan saya ini masuk koran KOMPAS *hehehe ngarep* maka hari ini juga Kompas menerbitkan tulisan saya, maka hari ini pula jutaan orang membaca tulisan saya.
Ketika di pertanyakan apa yang paling kuat pengaruhnya, internet ? atau media massa? maka saya bilang dengan jawaban relatif bahwa semua memiliki kekuatan yang berbeda, dan punya kemampuan yang berbeda satu sama lain. Misalnya internet memiliki keunggulan menyeleksi berita yang kita terima, kita suka bola, maka kita bisa mencarinya segala hal tentang bola tanpa harus disuguhi berita berita yang tak suka kita simak seperti Ekonomi, elektronik, politik atau dua halaman yang penuh iklan ketimbang berita. Lalu Radio, seandanya anda mengendarai mobil atau ketika mobilitas semakin tinggi, kita memerlukan Radio sebagai media yang bisa dengan mudah kita terima meski anda sedang melakukan aktifitas yang padat, lalu koran, seandainya anda ingin dengan sekejap mengetahui banyak berita di kota atau secara nasional kan anda hanya perlu membaca judul tiap berita dikoran. Anda bisa melakukannya tanpa membaca keseluruhan beritanya. Harga koran relatif murah, sekitar Rp 3.000,
Nah dengan sedikit berprasangka, Teman PR saya bilang, bahwa media massa seperti koran akan tersingkir dengan media online, dan itu akan merugikan karena pendapatannya juga semakin menurun. Maka disinilah saya akan membela bidang saya, hahaha padahal debat sudah usai, tapi saya masih ingin ngomong banyak.
Media massa terutama koran dahulu pernah dikhawatirkan akan hilang, setelah Radio sudah bisa dipakai secara umum, Radio dan koran pun disangka akan hilang ketika televisi sudah bisa menyajikan apa yang anda mau. Tapi lihat lah hingga sekarang Radio tetap eksis. Koran pun tetap eksis, dan Televisi pun tetap eksis, meski internet semakin mudah kita akses dewasa ini.

Permasalah isu lingkungan seperti limbah kertas koran yang tak dipakai. Dan akan menyebabkan pemanasan global. Saat ini telah bisa diatasi dengan penggunaan keratas koran yang lebih ramah lingkungan, dan bisa kita manfaatkan lagi. Atau kita recycle/daur ulang.
Internet adalah habitat paling sesuai untuk teori Uses and gratification, Teori ini mempertimbangkan apa yang dilakukan orang pada media, yaitu menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Penganut teori ini meyakini bahwa individu sebagai mahluk supra-rasional dan sangat selektif. Disini khalayak bersifat Aktif, selektif memilih apa yang ia butuhkan.

Sedangkan media massa adalah ladang yang tepat untuk Teori Agenda Setting. teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran/isu dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

Sebagai Contoh kita melihat nasib Tirani Dwitasari dan Shinta Jojo keong racun disitu jelas bahwa bila ditimbang timbang, kepopuleran Tirani Dwitasari lebih dahulu muncul diinternet, terbukti dengan banyaknya foto dan artikel tentang Tirani Dwitasari diungguh di internet. Sedangkan shinta dan Jojo baru saja dikenal baru baru ini, tapi hebohnya sampai keluar negeri. Mengapa demikian? Shinta dan jojo memang mengunggah video narsisnya itu di Youtube, namun yang justru membesarkan namanya adalah Media massa, saya menyaksikan bahwa ketika saya membuka facebook ada iklan vivanews(online antv,dan tvone) yang menunjukkan video keong racun shinta jojo. Dan lihat beberapa minggunya lagi, hampir disemua media di Indonesia terlebih media infoteiment membahas shinta dan jojo. Inilah Agenda Setting dari media massa. Dan berkat itu lah shinta dan jojo mendadak punya uang yang banyak, coba seandanya nasib sinta dan jojo seperti Tirani, dia hanya jadi bahan komentar di youtube.




Kasus TIRANI DWITASARI menggambarkan teori Uses and gratification pada media nir massa (Internet), Kebutuhan orang untuk mendapatkan informasi tentang Tirani membuat ia semakin populer di Internet. Hingga kini Tirani dianggap sebagai Selebritis Internet yang belum diketahui identitas aslinya atau masih diragukan identitasnya.  Tapi sayangnya Media massa seolah menyembunyikan kasus Tirani untuk di ekspos. Padahal(lagi) Ketika saya mencari di Google, saya melihat bahwa Tirani pernah menaiki motor dengan kode wilayah Bandung "D". Tapi kenapa Media gak mengekspos, mencari keberadaan sebenarnya, Shinta dan jojo juga orang Bandung, kenapa ia lebih mudah di ketemui. Disini kita melihat bahwa Agenda Setting pada Media massa masih lebih kuat mempengaruhi Kognitif masyarakat. Ketimbang Uses and Gratification pengguna internet.
Contoh lainnya lagi, ketika saya pertama kali mengetahui page “Damai yuk” saya hanya melihat kurang dari seribu orang yang memberikan tanda like pada page tersebut. Tapi ketika TvOne menayangkan wawancara khusus dengan mahasiswa indonesia yang berada di malaysia yang telah mencanangkan page tersebut. Maka saya dengan sangat terkejut melihat perkembangan yang sangat signifikan. Facebooker yang memberikan dukungan pada page tersebut telah mencapai lebih dari tiga ribu akun.
Begitu pula dengan page “Pray For Indonesia” ketika pertama kali terbentuk facebook Pray for Indonesia tidak seramai sekarang, namun metrotv, dan beberapa media mulai mengekspos keberadaan facebook tersebut, dan mungkin sekarang anda telah mengelikenya.
Jadi Siapa yang mempengaruhi siapa ? media sosial Internet yang mempengaruhi Media massa atau media massa yang mempengaruhi media sosial di Internet?
Awalnya saya mendukung pendapat yang mengatakan bahwa suatu ketika media di Internet juga jejaring sosial akan menggeser konvensionalis dari media massa, dan pengaruh terbesar akan berallih pada media Online dengan mengeluarkan Teori Kekuatan Bayangan atau The Power of Shadow Theory.  Karakteristik dari media massa yang belum bisa dimiliki oleh Internet . Juga teori teori yang dimiliki oleh media massa terutama teori peluru, Uses gratification, Silent Spiral,  dan Teori Agenda Seting yang khas dimiliki media massa hanya baru Uses Gratification yang bisa dilakukan oleh internet.
Lihat bagaimana kebijakan negara masih belom bisa dipengaruhi oleh komentar komentar dan masukan masyarakat di media online. Tapi Bila hal itu memasuki ranah media massa, lihat bagaiamana efeknya.
Maka saya dengan ini mengabarkan kabar gembira bagi Para Jurnalis/Pers dimana pun berada, hehehe bahwa massa depan kita (jurnalis/pers) masih cerah, meski berita kadang gelap. meski badai menerjang, Kita masih kuat bung!!! Hidup insan jurnalis/pers!!! sekali mengabarkan tetap mengabarkan.
:)

2 comments:

  1. gue denger nma asli tirani dwitasari ini adalah PUYI INTAN ASRISYA lho????

    ReplyDelete
  2. wah, kagak tau juga saya itu gan. kira kira bakal masuk TV gak ya tuh cewek?

    ReplyDelete