Saturday, February 12, 2011

NgeBolang Again: Menjelajahi lagi Secungkil Dunia jakarta bagian 3

 22 Januari 2011
ini hari ke tiga saya di kota ini.
Pagi ini saya terbangun terlalu pagi memang masih agak malam sebenarnya, mendengar ibu dan om muslihin (saudara laki-laki ibu) ngobrol, wah perbincangannya seru soal jeruk bali, ternyata Ibu pengen banget makan Jeruk bali, dan kata om, di pagi kayak gini pasar citeureup sangat lah ramai, Pasar yang gak jauh dari rumah, lalu kami bergegas keluar rumah dan menyalakan mobil. tetapi di pasar kami tidak menemukan jeruk Bali, yang banya hanya pisang tanduk, yang besar besar kayak pisang di Lampung.
eh, kekecewaan kami gak menemukan jeruk bali tergantikan dengan gagasan om mengajak jalan jalan ke gunung, ya hanya sekitar kurang dari satu jam dari pasar citeureup kami telah sampai di Pegunungan Cibadak dengan menyusuri jalan jalan yang bekelok-kelok. Bahkan di waktu subuh, kami beristirahat sejenak menunggu matahari agak tinggi agar pemandangan jelas di villa. tetapi cuaca agak tidak mendukung, hujan rintik rintik dan kabut agak tebal. Di daerah Pegunungan cibadak ini ternyata ada nama desa "Bolang". wkwkwkw mungkin acara anak Bolang "Bocah petualang" di Trans7 terinspirasi dari nama desa ini.Hingga sekitar pukul 6:30 kami memutuskan meninggalkan villa. Karena sebenarnya tujuan kami pun belum selesai. Saya dan ibu mau ke pasar cipulir blok M.


 Sesampainya dirumah saya agaknya malas mandi, hanya berganti pakaian dan segera pergi lagi ke Blok M, ya rute yang seperti biasa, ke terminal Kp.Rambutan dan Naik Bus way. hinggal ke blok M square saya naik bus Kopaja ke pasar cipulir agak jauh juga sih, sekitar setengah jam. Sebenarnya saya punya niatan untuk jalan jalan saja dulu di Blok M tetapi karena pasar cipulir dimana tempat grosir kaos kaos dan baju katanya akan tutup bila sudah siang, jadi yaaa terpaksa diurungkan niat itu. Dan setelah saya bertanya dengan pedagang disana ternyata baju baju yang ada disinilah yang nantinya akan didistribusikan ke seluruh indonesia. woww. bahkan kata Uni salah seorang pemilik kios disana mengatakan baju-baju ini tidak hanya didistribusikan ke seluruh Indonesia. Tetapi banyak juga yang sampai keluar negeri.
Gak terlalu lama kami di pasar Cipulir, melihat toko-toko memang sudah mulai tutup.

Jakarta mengajarkan saya banyak hal. Bahwa manusia hidup mencari penghidupan itu sendiri. Jakarta yang tua, tetapi masih tampak perkasa. dan terus berbenah.

eh ada Tiga hal menarik yang saya Temui selama perjalanan hari ini, dan itulah yang sangat saya ingat hingga disini.
  • Pertama, Ternyata Gak semua orang Jakarta punya Blackberry wkwkwkw, lalu kenapa teman-teman saya pada pindah pake blackberry ya?. tetapi. hal itu lah yang membuat saya berpikir "Yang paling penting adalah bagaiman kita memanfaatkan teknologi sebaik mungkin, efektif dan evisien" agak miris rupanya kalo ngeliat banyak kaum ibu justru lebih suka punya hape yang canggih seumpama blackberry atau hape qwerty lainya tetapi fitur yang mereka gunakan paling hanya telpon, SMS atau cuma untuk dengerin MP3 dari handphone.wkwkwk bahkan tak jarang orang orang mengeluh bingung menggunakan keypad qwerty yang sangat boming sekarang. wkwkwkw
  • Kedua, "Masker". Loh kok masker? ya penduduk jakarta gak malu malu lagi menggunakan masker, mungkin ketika virus Sars yang beberapa tahun lalu mewabah membuat orang peduli akan kesehatan. kalau di Palembang penggunaan masker mulut masih jarang, kecuali masker motor. yang harganya lebih mahal daripada masker masker yang saya temui di jalanan jakarta. Sebenarnya selain kesadaran masyarakat jakarta akan kesehatan terutama pernapasan. Penjual Asongan di jalan jalanlah yang berpengaruh pada budaya ini, dengan harga Rp.1000. kita bisa mendapatkan sebuah masker. Sama seperti harga dua gelas air meneral. Coba saya bandingkan dengan di Palembang kita harus ke toko, atau swalayan untuk mendapatkan masker. dan gak semuanya menjual. pedagang asongan memang banyak berkeliaran menjual Masker motor yang mirip kakashi di film Naruto tetapi harganya lebih mahal dan sebaiknya bukan untuk orang yang terserang penyakit seperti Flu, karena Masker yang kita pakai hanya dipakai satu kali saja dan bukan untuk berulang ulang. mungkin sebaiknya Pemda setempat di seluruh tanah air membekali penjual asongan dengan masker. atau para penyuplai barang barang asongan ikut membantu mendistribusikan Masker, ketimbang menjual rokok.
Kedua, kotak korek api ini. loh korek api?? iya, lihat aja kotak korek api ini. jelas tertulis Made in Indonesia tetapi keseluruhan isi tulisan yang tercantum di kotaknya gak ada yang berbahasa Indonesia. bahkan lebih mirip kotak korek api Impor wkwkwkw


0 comments:

Post a Comment