Monday, June 27, 2011

Cerita Dari Jalanan Masa Lalu

Ternyata banyak yang tidak tahu sejarah dan fakta dibalik Jembatan Ampera  yang menjadi ikon kota Palembang. Banyak warga kota Palembang tidak tahu dimana jalan H.M Ryacudu. padahal jalan itu merupakan jalan di Jembatan yang dahulu diberi nama Jembatan Soekarno. ya, Jembatan ini dibangun berdasarkan prakarsa Presiden Pertama RI yang menuntut Jepang membangun jembatan yang dapat menyatukan Kota Palembang yang terpisah menjadi dua (Seberang ulu, dan seberang ilir). Singkat cerita dahulu jembatan ini di beri nama Jembatan Soekarno. Namun kisah telah berganti, semenjak Gerakan 30 September PKI. dan munculnya aksi Anti Soekarno, nama Jembatan ini pun berganti menjadi jembatan Ampera yang berarti Amanat Penderitaan Rakyat.

Berakhirnya Soekarno memimpin negeri ini, dan dilanjutkan dengan masanya Soeharto. menandai babak baru Republik ini, kebijakan kebijakan Soeharto kerap bertentangan dengan kebijakan Soekarno dahulunya. Sentilan sejarah yang menunjukan ketidak harmonisan antara dua pemimpin negeri ini kerap di bawa ke permukaan oleh aktifis sejarah.
Orde Baru yang dikenal sebagai ordenya rezim Militer ini memiliki kebiasaan yang fenomenal dan bersejarah. mengapa tidak, Nama nama tempat dan jalan kerap diganti oleh Orde Baru, fungsinya adalah De-Soekarnoisasi.atau penguburan peranan Soekarno di Republik ini. Bahkan Gelora Bung Karno pun diganti dengan nama Stadion Utama Senayan. Dan tidak hanya GBK. Palembang ternyata memiliki sejarah yang cukup kuat dengan De-Soekarnoisasi dan kekuatan Orde Baru.
Coba saja kita berjalan-jalan mengelilingi kota Palembang. Akan sangat sering kita jumpai Nama-nama Jalan berdasarkan nama nama orang penting dalam sejarah Indonesia. terlebih nama nama jalan yang berhubungan dengan Militer dari nama  Jendral, Mayjen, letnan, kopral. Kolonel, mayor, kompol. Orde Baru memang sangat perhatian terhadap kalangan Militer dan kepolisian. Karena hal itu pula Orde Baru kerap memberikan nama nama pembesar di kalangan Militer dan Kepolisian.

Bahkan ketika reformasi bergulir, dimana mahasiswa setiap hari turun kejalan dan demonstrasi. Palembang ternyata adem ayem, Mahasiswa Palembang tidak ikut dalam demontrasi. Sempat Mahasiswa dari Pulau Jawa mengirimkan celana dalam wanita untuk mahasiswa Palembang. Yang  kala itu dianggap banci. dan penakut. Padahal hal itu justru memperlihatkan betapa besarnya kekuatan Orde Baru di Palembang ini.

Bahkan hingga kini, banyak kalangan dari warga Palembang yang merindukan romansa kepemimpinan Soeharto.


Kembali dengan nama nama jalan.Apakah ini salah? memberikan nama-nama pahlawan sebagai nama jalan? tentu tidak,  kita pun wajib menghargai dan mengingat jasa jasa mereka. kalau perlu kita harus membuat satu fly over lagi, atau jalan baru dan memberikannya nama Jl. Soeharto. mengingat jasanya di bidang pembangunan. Tetapi permasalahannya adalah kita harus mengetahui sejarah.Sejarah yang selama ini ditutup tutupi, atau sengaja kita tak pedulikan ini.

0 comments:

Post a Comment