Friday, July 22, 2011

Putri Gunung Ledang (sebuah Analisis)

Putri Gunung Ledang merupakan Legenda yang berasal dari Hikayat Hang Tuah dan kitab Sulaltus Salatin yang sering dikenal dengan (Sejarah Melayu) yang kemudian di filmkan.
Film yang disutradari oleh Saw Teong Hin ini bercerita tentang kisah cinta Gusti Putri Raden Ajeng Retno Dumilah dari kerajaan Majapahit dengan Hang Tuah seorang laksamana yang terkenal di Kesultanan Malaka.
sayangnya film yang telah ditayangkan sejak 2004 lalu belum pernah muncul di Indonesia. padahal film ini sangat bagus di tonton.

Sinopsis
Menceritakan tentang Gusti putri Raden Ajeng Retno Dumilah(Tiara Jecquelina) yang pergi dari tanah jawa menuju Malaka  untutk bertemu dan mengejar cintanya kepada Hang Tuah (M.Nasir) yang sebelumnya pernah datang ke Majapahit. Namun kala itu merupakan masa masa kemunduran Majapahit,  Kesultanan Demak sudah mulai melebarkan kekuasaan yang mengancam kedaulatan Majapahit. Keterancaman ini membuat Raja Majapahit Gusti Adipati Handaya Ningrat (Alex Komang) hendak menikahkan adiknya
RA. Retno Dumilah kepada Sultan Malaka. Sebelumnya Patih Majapahit (Slamet Rahardjo) mengusulkan agar Gusti Putri Retno Dumilah untuk dinikahkan kepada Sultan Demak. agar kedamaian tercipta, dan bersatunya dua kerajaan itu. Namun, mereka baru menyadari bahwa Gusti Putri telah pergi ketanah Malaka. Hingga akhirnya Gusti Adipati Handaya Ningrat ingin menikahkan saja adiknya kepada sultan Malaka agar membantu Majapahit dari Serangan Demak. Sementara itu Gusti Putri menetap di atas gunung Ledang seorang diri menunggu Hang Tuah datang menemui. Meski Cintanya Hang Tuah Begitu besar kepada Gusti Putri Namun Ketaatan dan baktinya kepada Sultan Malaka dan Negerinya sangatlah Besar pula, Hang Tuah datang Menemui Putri Gunung Ledang (Gusti Putri Retno Dumilah) justru untuk menyampaikan lamaran dari Sultan Malaka/Sultan Mahmud Syah (Adlin Aman Ramli). Gusti Putri akhirnya mengiyakan lamaran itu dengan memberikan 7 syarat.
  • 1 jambatan emas dari Melaka ke Gunung Ledang.
  • 1 jambatan perak dari Melaka ke Gunung Ledang.
  • 7 dulang hati nyamuk.
  • 7 dulang hati kuman.
  • 7 tempayan air mata anak dara.
  • 7 tempayan air pinang muda.
  • 1 mangkuk darah Sultan Ahmad, yaitu anak Sultan Mahmud Shah yang masih kecil
7 permintaan itu sebenarnya bentuk penolakan Gusti Putri, Namun Sultan Mahmud Syah tidak sadar itu, dan akan menyanggupi semua permintaan termasuk membunuh anaknya sendiri. Ketika Mengangkat keris untuk membunuh Sultan Ahmad Putra Mahkota Kerajaan Malaka . Secara Ghaib Putri Gunung Ledang datang, Mencegah Sultan Mahmud membunuh anaknya dengan menjelaskan permintaanya itu. dan memohon untuk tetap tinggal saja di puncak gunung ledang agar tidak menyakiti hati siapapun. Merasa dipermainkan Sultan Mahmud mengutuk siapa saja yang melihat Gusti Putri setelah Fajar akan mati bermuntahkan Darah.


Demak dalam film ini
Dari sumber lain saya belum pernah membaca bagaimana tanggapan tentang film ini. Tetapi ada beberapa hal yang saya kritisi dalam film ini. Yaitu Adegan dimana Demak menyerang Majaphit, Disini Pasukan Demak berkuda menyerang perkampungan Majapahit. membakar rumah, dan membunuh, Ibu-ibu dan anak-anak ketakutan. Menurut sejarahnya memang Demak beberapa kali menyerang Majapahit, namun dalam tradisi perang di Jawa, dan Perang dalam Islam (Demak sebagai Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa) perang itu punya beberapa tahap, pertama Perang hanya boleh dilakukan di Medan Perang (boleh merujuk dalam kisah-kisah perang di jawa, juga kisah kisah pewayangan) bukan di rumah rumah penduduk, Kedua, Perang harus diumumkan terlebih dahulu agar kedua belah pihak saling bersiap diri. namun disini tergambar bahwa perang dilakukan secara tiba tiba hingga seseorang mengetok kentongan desa. Ketiga, dalam Tradisi jawa dan Islam, perang tidak boleh mengorbankan perempuan dan anak-anak. namun disini terlihat ibu ibu ketakutan berlarian, dan anak anak menangis. Padahal dalam sejarahnya Kesultanan Demak justru sangat menghargai rakyat-rakyat majapahit meskipun berbeda agama, Sunan Kudus bahkan sempat melarang penyembelihan Sapi kepada masyarakat Demak untuk menghargai umat hindu dan menggatinya dengan penyembelihan kerbau.



Perkawinan Raja-raja.
Film ini juga mengajak kita memahami sejarah, Dahulu kita sering bingung kenapa antara dua kerajaan sering terjadi pernikahan. Kalo waktu SD-SMP kita masih percaya pernikahan itu karena cinta. hahaha Kebanyakan nonton sinetron si elo... Tetapi film ini menggambarkan bahwa kadang kala pernikahan bukan terjadi karena cinta, namun karena persoalan politik, Membesarkan Kerajaan, Menyelamatkan Kerajaan. Menguatkan Kerajaan. dan kalo di pikir pikir kasian juga jadi putri nya ya.Harus ikut apa kata mereka raja raja yang berkuasa.

Pelajajaran untuk Wanita
Film ini juga mengajarkan bagaiaman wanita yang sering dianggap tidak memiliki banyak pilihan dalam menentukan jodoh, untuk tetap mendengar suara hatinya. Dahulu kita banyak tidak sadar mengapa dalam kisah kisah dongeng wanita meminta berbagaimacam permintaan yang tidak bisa dituruti dengan mudah. seperti membuat 1000 candi dalam satu malam, Membuat Bahtera yang besar, dan sebagainya. Pelajaran pentingnya adalah ketika wanita di jodohkan dengan lelaki yang tidak dicintai, bukanlah harus kabur dari rumah.kawin lari dengan pacar,Tapi mintalah maskawin/mahar yang  sulit mereka buat. Tapi gimana kalo si calon suaminya itu ternyata berhasil mengabulkan seluruh permintaan wanita? yaudah, nurut ajalah wahai wanita. Hebat tuh laki-laki. hehehe. Permintaan itu pun menunjukkan seberapa besar dan hebatnya si laki laki. Dalam kisah ini Putri Gunung Ledang meminta 7 permintaan yang salah satunya darah anak Sultan Mahmud Syah yang secara logika harusnya mustahil.


Ada Dian Sastrowardoyo
Selain beberapa artis indonesia lain yang main dalam film ini seperti Cristine Hakim, Slamet Rahardo, dan Alex Komang yang sudah terkenal talentanya dalam seni perfilman. Pemeran Ada Apa Dengan Cinta, Dian Sastrowardoyo pun tampil dalam film ini. Meski hanya menjadi Cameo, setidaknya kehadiran Dian Sastro di awal-awal film cukup membuat segar, dan mungkin ini trik agar penonton menunggu muncul lagi Dian Sastro dalam film ini yang nyatanya enggak. wkwkwk Awalnya saya gak tau ada Dian Sastro cuma baca dari beberapa sumber katanya ada dian Sastro , dan setelah ditonton ulang, eh baru ngeliat Dian Sastro, Dian Sastro tampil sebagai anak penjual parfum(kayaknya sih parfum kalo bukan minyak) di pasar yang akan dibawa olah bandit bandit. Dian Sastro Tampil dengan riasan sederhana, dan Kampungan Banget, tapi tetep cantik. Bahkan dengan dandanan seperti itu aku gak sadar kalo itu dian sastro awalnya.

Bahasa
disini Bahasa Melayu dan Indonesia paling sering dipakai, bahkan dalam film ini diberikan translate dalam bahasa cina, dan inggris, Bahasa melayu dan syair syair malayu ini mendapat porsi lebih banyak mengingat kejadiannya lebih banyak berada di Malaka. dan untuk Mewakili Jawa (Demak, Majapahit) lebih sering digunakan bahasa Indonesia, namun beberapa kali bahasa Jawa pun digunakan, Seperti saat Putri sedang nyinden(nembang jawa). Tiara Jecqueline sangat fasih mengucapkan bahasa indonesia, dan dapat menghilangkan logat melayu. Bahkan beberapa adegan sepatah dua patah kata Tiara dapat mengucapkan kata kata dalam bahasa jawa plus logatnya. Nilai Plus dari Film ini adalah gaya bahasanya yang penuh dengan syair syair dan budaya. dalam lagu Asmaradana beberapa syair jawa klasik di sadur dalam bahasa indonesia. dan tetap tidak kehilangan keindahannya.


Musik
Asmaradana yang tidak lain merupakan tembang macapat Jawa yang menceritakan kisah antara Damarwulan dan kekasihnya, Anjasmara. Puisi ini menangkap fragmen pertemuan terakhir mereka, ketika Damarwulan berpamitan kepada Anjasmara, untuk berangkat berperang melawan seorang pengkhianat Majapahit. Justru dijadikan judul sebuah lagu, yang diiringi oleh musik Gamelan Kontemporer, begitu pula dengan tarian asmaradana yang umumnya kita ketahui sering muncul dalam pertunjukan Wayang orang, dilahirkan kembali dalam  koreografi kontemporer, jelas beberapa gerakan merupakan gerakan tarian jawa. namun karena kontemporer tersaji lebih energik dan apik.Selain musik, tarian jawa kontemporer, ada juga tembang sinden(lupa judul aslinya). dan juga musik gamelan dan tarian jawa yang konvensional ini bisa dilihat saat Raja majapahit mulai bertapa dan berteleportasi dari Jawa ke Malaka. oh iya, Musik Melayu disini justru menurut saya agak kurang tempat. Bahkan musik Sunda malah lebih mendominan. Jika mendengar musik latarnya sering sekali kita mendengar alunan suling sunda. jika ingat tiupan suling sunda dalam film Kabayan. nah asyiknya gitu deh, suling yang seolah menggambarkan keindahan alam. sawah, dan kedamaian. padahal didalam kisah ini tidak menyangkut pautkan Kerajaan Pasundan /Padjadjaran.

Sinematografi


soal sinematografi, Film yang berbudget paling mahal dizamannya itu memang tidak sia-sia, kita disajikan dengan pemandangan alam yang indaaahh banget. dari pegunungannya, hamparan padang yang luas, pantai, hingga air terjunnya (dimana ya lokasi air terjunnya itu?)kostum yang dipakaipun sangat mendukung suasana dan latar  dalam film ini. Pemanfaatan CGI (Computer Generate Imagery) dalam pembuatan film ini sudah cukup bagus, rapi dan halus, nyaris terasa real. Seperti efek-efek yang muncul saat adegan pertarungan Raja Majapahit dengan Hang Tuah.



Wanita Jawa yang Sakti
Dalam film ini saya mendapatkan aura feminimitas yang maskulin. Putri Gunung Ledang yang tampil anggun digambarkan memiliki kemampuan yang sakti, dapat melakukan telepati, menyaru menjadi sosok lain, memiliki sihir yang dapat mengendalikan akar akar pohon dihutan, Teleportasi jarak jauh, hingga membuat dirinya tak nampak. weeeee..bener kagak tuh ya?kali bener..

menyaru


Gusti Putri Retno Dumilah berani untuk tinggal seorang diri diatas gunung ledang didalam hutan.Datang ketanah yang belum pernah ia tapaki sebelumnya. Sebenarnya ini merupakan simbol kemandiran wanita jawa. kalo diperhatikan wanita jawa memang merupakan wanita yang paling berani untuk merantau bahkan seorang diri. Tampaknya kemandirian Retno Dumilah itu mengalir pula dalam darah darah kebanyakan wanita jawa.

Ketaatan dan Pengabdian
Dalam film ini digambarakan betapa tokoh tokoh dalam cerita digambarakan sebagai tokoh yang taat terhadap Negara, Rakyat dan Rajanya. semua yang dilakukan demi negeri dan rakyat banyak.Mereka rela berkorban dan bertarung demi itu semua. Hang Tuah meski sangat mencintai Gusti Putri merelakan cintanya itu di pinang oleh Sultannya sendiri, yang sebelumnya pernah mengambil Teja. Gusti Adipati Handya Ningrat raja Majapahit berkali kali mengutarakan dasar niatnya melakukan semua hal, yaitu demi negara, rakyat dan leluhur. Gusti Putri pun demikian ia rela dinikahi oleh raja Malaka atau Sultan Demak demi keselamatan rakyatnya.


Adanya bagian film yang dipotong
Saat saya pertama kali menonton di youtube, saya tak menyadari bahwa ada bagian film yang dipotong, tetapi setelah file torrent yang saya download rampung, dan saya tonton dari awal hingga akhir barulah saya ketahui ada beberapa scane yang tidak dimasukkan, beberapa diantaranya adalah, adegan penyelamatan Teja (saat sebelum jadi permaisuri) rupanya teja dahulu saling mencintai pula dengan hang Tuah. kemudian adegan dimana Hang Tuah membunuh teman karibnya yaitu Hang Jebat. Hang Jebat dianggap telah mendurhakai kerajaan dan sultan Malaka. padahal pendurhakaan itu demi Hang Tuah.


Huruf Jawa
Ketika Gusti putri mengeluarkan 7 permintaan dalam tulisan jawa pada lembaran lembaran daun. kemudian ketika lembaran lembaran daun itu dibawa ke istana untuk diterjemahkan oleh para cerdik cendikiwan. Saya mulai curiga huruf yang digunakan bukanlah huruf jawa melainkan hufu india. coba kita perhatikan 3 jenis huruf yang dipakai di jawa, yaitu aksara kawi, Palawa, dan Hanacaraka (silahkan Googling sendiri atau cari di wikipedia).
Palawa,kawi,hancaraka sumber wikipedia

Jika diperhatikan huruf yang digunakan dalam film ini bukanlah ketiga huruf yang dipakai dijawa. Baik kawi, palawa maupun hanacaraka melainkan huruf Devanagari, atau aksara yang dipakai di India. Memang memiliki akar huruf yang sama namun jelas sangat berbeda, dimana huruf yang dipakai di jawa tidak menyambung seperti huruf Devanagari di India.
sumber wikipedia

Agaknya terjadi kekeliruan dalam pembuatan film ini, tapi bisa kita maklumi dikarenakan sangat langka orang yang dapat membacanya.Kecuali Hancaraka. dan Devanagari masih sering digunakan di India, Melihat banyaknya juga warga Malaysia keturunan India di Malaysia. juga akar huruf yang sama.yaaa maklumi ajalah..wkwkwkw


Kesimpulannya, Film ini layak ditonton, sebagai rujukan pula untuk memahami sejarah Jawa dan Melayu. baik secara historis maupun kebudayaan..harus lebih banyak lagi film sejarah yang digarap secara apik seperti ini.lalu apa lagi ya.. hmmm Ternyata untuk buat film yang bagus perlu dana yang banyak.hahaha

7 comments:

  1. mantap resensi dan kritikannya...Indonesia mesti juga mengangkat kembali cerita2 ataupun sejarah lokal...Hang Tuah sendiri ataupun Hikayat Hang Tuah adalah juga milik Indonesia karena masa itu masa Nusantara belum terbagi dalam beberapa negara seperti sekarang, melainkan banyak kerajaan besar maupun kecil...menurut Kitab Hikayat Hang Tuah maupun Sulalat As Salatin diceritakan Hang Tuah putera Hang Mahmud berasal dari Pulau Bentan (Sekarang masuk Propinsi Kep. Riau) terus berdarah Bugis, dalam film ini sempat juga disebut dalam satu adegan kalimat "tamparan Bugis''...mungkin menggambarkan karakter Bugis yang "keras" dimata Orang Melayu, mengingat Sejarah di Rumpun Melayu yang kemudian juga banyak andil Bugis di dalamnya selain sebelumnya ada Jawa dan Sri Wijaya ataupun Melayu, Aceh dan Minangkabau dari Ranah Sumatera...salam Nusantara...

    ReplyDelete
  2. mantap resensi dan kritikannya...Indonesia mesti juga mengangkat kembali cerita2 ataupun sejarah lokal...Hang Tuah sendiri ataupun Hikayat Hang Tuah adalah juga milik Indonesia karena masa itu masa Nusantara belum terbagi dalam beberapa negara seperti sekarang, melainkan banyak kerajaan besar maupun kecil...menurut Kitab Hikayat Hang Tuah maupun Sulalat As Salatin diceritakan Hang Tuah putera Hang Mahmud berasal dari Pulau Bentan (Sekarang masuk Propinsi Kep. Riau) terus berdarah Bugis, dalam film ini sempat juga disebut dalam satu adegan kalimat "tamparan Bugis''...mungkin menggambarkan karakter Bugis yang "keras" dimata Orang Melayu, mengingat Sejarah di Rumpun Melayu yang kemudian juga banyak andil Bugis di dalamnya selain sebelumnya ada Jawa dan Sri Wijaya ataupun Melayu, Aceh dan Minangkabau dari Ranah Sumatera...salam Nusantara...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Asselebessi : betul bro. Indonesia mesti buat film Sejarah lokal, tapi yang berkualitas tentunya... wah kayaknya mas bro nih dah pernah nonton juga ya.. sayangnya film ini belum pernah masuk tv nasional kita.

      Delete
  3. Kritik untuk penyebutan nama raja Majapahit dalam film ini. Gusti Adipati Handaya Ningrat bukanlah raja Majapahit, melainkan menantu raja Majapahit yang bernama Brawijaya V. Kalo mau menyebut nama raja Majapahit, seharusnya Brawijaya. (Handaya Ningrat itu adalah kakek Jaka Tingkir, yang nantinya mendirikan Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya)

    ReplyDelete
  4. selamat malam mas, saya mau tanya punya referensi buku tentang cerita puteri gunung ledang tidak mas? soalnya saya butuh utk keperluan tugas kuliah, saya sudah cari dimana-mana tapi tidak ketemu. mohon bantuannya ya mas, kalo ada, ini email saya
    mbomooet@yahoo.co.id

    terima kasih mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cari di youtube aja.

      Delete
  5. selamat sore mas aji, saya boleh minta link untuk download film putri gunung ledang ini ?? soalnya saya sudah lama sekali ingin menonton film ini, namun belum ketemu link download nya, saya coba cari di youtube tidak ada yang full movie .

    mohon bantuannya mas, Terimakasih.

    ReplyDelete