Tuesday, November 29, 2011

Disini Jembatan Kutai Kartanegara Belum Ambruk

Berita mengenai ambruknya jembatan Kutai Kartanegara Tenggarong menimbulkan keprihatinan banyak orang, jembatan yang hanya berusia 10 tahunini ternyata roboh pada 26 November lalu, dan menawaskan 18 orang. Seharusnya jembatan megah ini dapat bertahan lebih lama.

Karena kejadian ini timbullah spekulasi bahwa pembangunan jembatan ini sarat aroma korupsi yang membuat jembatan ini sangat rapuh. Apalagi melihat sejarah pembangunan jembatan ini yang dibangun pada massa bupati Syaukani Hasan Rais, Pak Kanin (panggilan akrabnya) divonis oleh Pengadilan Tipikor pada 14 Desember 2007 dengan hukuman penjara dua tahun enam bulan.

Jembatan ini baru dibangun dari tahun 1995 dan selesai pengerjaannya pada 2001 dengan Kontraktor PT Hutama Karya  dan baru diresmikan pada tahun 2002, sebelumnya jembatan ini diberi nama Jembatan Gerbang Dayaku, kemudian dirubah lagi menjadi Jembatan Kutai Kartanegara ing Martadipura atau yang sering disebut sebagai Jembatan Kutai Kartanegara, dan karena melintasi Sungai Mahakam maka Jembatan ini juga disebut Jembatan Mahakam II. Jembatan ini juga pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Pemerintah RI karena dibangun oleh tenaga kerja lokal Indonesia.

Mungkin sebagian dari kita, terutama warga kalimantan timur, yang sering berlalu lalang dari Tenggarong ke Tenggarong Sebrang akan merindukan melewati jembatan itu lagi. Pemandangan yang disajikan saat melewati jembatan ini selain Sungai Mahakam yang termashur itu kita juga bisa melihat pulau yang berada ditengah sungai yaitu Pulau Kumala (Taman Rekreasi). 

Meskipun, faktanya jembatan ini telah ambruk, tetapi didunia maya jembatan ini masih kokoh berdiri. Hal itu dapat terlihat dari citra 3D Google Earth.Link

Friday, November 25, 2011

Selamat Jalan Teman Sepetualangan

Lidah ini keluh sungguhnya, mengingat teman seperjalanan dan sepetualangan hilang.

Monday, November 21, 2011

I'M Sorry Angelique Widjaja

Perhelatan SeaGames yang berlangsung di Kota Palembang ternyata membuat teman teman saya yang ada di Jurusan Public Relations mendapat PR dari dosen mata kuliah MC dan Protokoler untuk membuat liputan apapun yang berkaitan dengan SeaGames ke 26 ini.
Dan ternyata saya pun kecipratan sibuk, dikarenakan beberapa teman mengajak saya untuk membantu tugas mereka. Saya diminta menjadi cameraman dan editor . Mengasyikan juga sebenarnya tugas mereka itu, mereka seolah-olah menjadi reporter TV , dan bagi saya hal ini seperti latihan saya menjadi wartawan dan editor berita Televisi, Bedanya kami adalah Reporternya banyak dan cameraman hanya satu, alhasil saya mondar mandir kesana kemari, dari teman yang satu keteman yang lain.
Tapi ada satu liputan yang membuat saya merasa seperti Wartawan TV sungguhan. Yaitu  kemarin saat saya meliput bersama Haris Wijaya di Lapangan Tennis Bukit Asam yang masih satu kompleks dalam Jakabaring Sport City  Palembang. Tadinya kami hanya mau meliput pertandingan dan mewawancarai penonton, tapi saat melewati Medical Room dimana atlet beristirahat terbesit dari pikiran Haris untuk meliput salah satu atlit.

Friday, November 18, 2011

Media Provokatif

Penyelenggaraan SeaGames ternyata tak hanya bersemangat Nasionalisme, tetapi dibawa kedalam ajang gengsi dan Etnosentrisme. Dikhawatirkannya, semangat nasionalis kebablasan yang sering diwujudkan oleh bangsa kita dapat berakibat pandangan buruk dan perspektif negatif negara lain terhadap Indonesia. Ulah Suporter yang sering melecehkan negara lain saat pertandingan, misalnya menyoraki "Sorakan penghinaan" pemain atau kadang mengejek Lagu bangsa lain di arena sebenarnya sangat disayangkan. Itu merupakan sikap buruk yang seharusnya tak boleh di tunjukkan oleh Bangsa yang santun.

Lebih disayangkan lagi beberapa media terkesan memprovokasi sebuah berita olahraga menjadi isu panas yang ingin diglindingkan kepada masyarakat seperti bola salju. Salah satu contoh yang saya ambil adalah MetroTv. Menjelang pertandingan Grup A Sepak Bola Sea Games antara Indonesia Vs Malaysia, MetroTv membuat sebuah liputan prapertandingan, yang menghadirkan beberapa tokoh. Namun yang sangat tidak etis dalam penyangan tersebut ada dua hal,

Pertama, "Judul"
Dalam tayangan ini jelas diberi judul "Dukung Garuda Ganyang Malaysia", judul itu sangat provokatif, mengesankan bahwa pertandingan bola = perang.

Padahal seharusnya MetroTv tau, media mereka saat ini bukan hanya ditonton oleh warga indonesia saja, saat ini sedang di laksanakan SeaGames yang merupakan ajang olahraga terbesar seAsia Tenggara, juga KTT ASEAN di Bali. Banyak mata akan tertuju pada Indonesia.
Padahal Indonesia sedang membangun citra yang baik sebagai pemimpin dan contoh baik di negara ASEAN.
Rasanya judul tersebut tak layak dan tak santun dikeluarkan oleh sebuah lembaga Media besar seperti MetroTv.

Tuesday, November 15, 2011

Penerapan SmartCard TransMusi Molor

Setelah rencananya transmusi Akan segera menerpakan SmartCard sebagai Sistem pembayaran sebelum pelaksanaan SeaGames, namun fakta di lapangan menunjukan hingga hari ini (hari ke 6 pelaksanaan SeaGames) realisasi SmartCard dinilai "Nihil". Terbukti dari belum adanya penumpang yang menggunakan SmartCard  sebagai alat pembayaran.

Bahkan Box mesin pembaca SmartCard banyak dinilai warga pengguna tidak efektif. Mesin-mesin yang dianggarkan Rp 2miliar itu justru mempersulit warga untuk mendapatkan tempat berdiri saat TransMusi penuh penumpang.

Wednesday, November 9, 2011

Tugu Bersejarah Yang Malang

Palembang dengan sejarahnya yang panjang menyimpan banyak bangunan bangunan bersejarah dan yang mengingatkan dengan sejarah itu. Daerah yang paling banyak terkumpul bangunan bersejarah adalah di Kawasan Jembatan Ampera,antara lain seperti Benteng Kuto Besak, Monpera, Museum Sultan Mahmud Badarudin (Dulunya tempat tinggal Belanda), Masjid Agung, Kantor Pos. dan Lain lain.
Namun, sebagian bangunan sejarah kurang diperhatikan, Salah satunya adalah Tugu Peringat Perang Lima Hari Lima Malam 1947 di kawasan Ilir Timur. persis disamping jembatan Ampera

Palembang The Explorer

Setelah mendapat masukan dari beberapa pihak, akhirnya Halte TransMusi memiliki Peta Koridor yang baik, meski untuk saat ini, belum semua Halte memiliki Peta tersebut.

Peta ini akan membantu masyarakat maupun turis untuk menjelajah Kota Palembang

Monday, November 7, 2011

Kita Berhutang Kepada KOMODO

Saya punya beberapa cerita nih, soal hewan yang lagi booming dibicarakan akhir akhir ini, KOMODO. Hewan yang dalam bahasa inggrisnya sering disebut The Komodo Dragon ini, masuk kedalam jajaran 28 finalis Tujuh Keajaiban Dunia kategori Alam.

Komodo bisa kita sebut salah satu ikon Indonesia. ya, dengan masuknya kedalama 28 finalis New7Wonders akan ikut memperkenalkan Indonesia kepada Dunia. Tapi, sebenarnya jauh dari kegilaan SMS Rp1 saat ini. Komodo telah memberikan kita banyak cerita.

Modo-Modi maskot SeaGames ke26 ini merupakan penjelmaan dari hewan purba Komodo. meskipun Maskot ini hanya bisa di identifikasi sebagai spesies komodo hanya dari namanya saja "Modo & Modi", selebihnya banyakyang mengira sebagai Kadal, Bahkan Cicak. lebih lucunya lagi, sore tadi saat saya ngobrol dengan seorang teman yang bekerja di Kantin Bandara SMB II. Dia Bercerita, ada seorang yang berasal dri luar kota dan akhir-akhir ini bekerja menempel stiker Modo-Modi. Bapak Stiker Modo Modi itu menghampiri teman saya, dan bertanya "mbak, Ini gambar ikan patin ya? ikan khas Palembang kah?". #Suram -_- e

Friday, November 4, 2011

Palembang Perlu Peta

Palembang sebagai kota penyelenggara SeaGames dipersiapkan untuk menyambut tamu-tamu lokal bahkan internasional. Namun sayang beberapa kelengkapan penunjang turis-turis tersebut dinilai tidak memenuhi. salah satunya adalah Peta.

Menurut hasil pantauan saya, saat ini Palembang belum memiliki peta yang layak. Baik itu jalur/koridor TransMusi,  ataupun peta jalan dan lokasi. Di Gramedia dan toko buku juga alat-alat kantor dan sekolah, Peta Palembang yang sering dijual adalah Peta lama. keterangan indeksnya pun sudah tidak uptodate.
Dan kita tak akan bertemu Peta lokasi di jalanan kota Palembang saat ini, yang ada hanya Iklan iklan produk saja, atau baliho milik pemerintah. Hal ini juga kadang membuat beberapa warga kota Palembang pun tidak tahu lokasi lokasi tertentu, ataupun jalan-jalan dikotanya.