Friday, December 7, 2012

Asrama Prahara

Tututlah ilmu hingga ke negeri cina, sebuah hadis yang menggambarkan betapa penting menuntut ilmu, semangat untuk mencari ilmu yang mungkin tidak kita dapat di negeri sendiri. Seperti banyak teman-teman kita yang rela meninggalkan rumahnya, rela untuk meninggalkan kesenangan yang diberikan orang tua, dan tinggal di kota yang bukan tempat kelahirannya hanya untuk menimba ilmu.
Tapi bagaimana jika ditengah kerelaan dan perjuangan mereka itu justru  harus merasa terintimidasi, terganggu oleh kepentingan sekelompok orang beruang? Seperti yang saya temui beberapa hari lalu saat berkunjung ke kota kembang Bandung.

Tanggal 2 Desember seusai menghadiri Munas, saya hendak jalan jalan beberapa hari di kota Bandung, karena tidak memiliki keluarga di bandung, maka saya berniat untuk menginap di Asrama Mahasiswa milik Pemprov  Sumatera Selatan yang berlokasi di Jalan Purnawarman no 57, mengingat saya memiliki teman yang sedang melanjutkan kuliahnya di Pascasarjana Unisba. yang kampusnya tepat berada disamping gedung asrama.

Esok paginya, sekitar pukul 8:30 3 Desember, saat sebagian penghuni asrama sudah pergi kekampusnya masing masing, dan saya sedang bersiap siap untuk jalan. tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya puluhan preman berbadan besar, berambut cepak dan botak. yang mencoba menerobos masuk asrama, namun terhalang gerbang yang dirantai. Mereka membawa tukang-tukang pekerja yang dengan cepat memasang pagar "Seng" dan bambu mengeliling bagian depan asrama. 
Preman-preman tersebut tertahan di luar gerbang masuk asrama


Secara jumlah, dan postur tubuh jelas mahasiswa pasti akan kalah jika harus beradu fisik dengan preman preman tersebut. Hanya ada beberapa mahasiswa yang menemui preman-preman tersebut, sebagian lainnya mulai cemas, menelpon pihak kepolisian untuk segera mengamankan asrama. Namun tampaknya pihak polisi juga tidak bisa membersihkan kehadiran preman-preman yang mengaku mendapat tugas dari Husein Nawawi dari Yayasan Batanghari Sembilan Bandung untuk  mengosongkan asrama.

Prahara ini berawal dari surat kuasa Muin Mandalo, salah seorang pengurus Yayasan Batanghari Sembilan Sumatera Selatan yang telah dibubarkan, yang memberi kuasa kepada Husein Nawawi untuk mengurus Asrama. dan membentuk yayasan baru bernama Yayasan Batanghari Sembilan Bandung. Muin Mandalo mengaku bahwa ia adalah satu satunya pengurus yayasan yang masih hidup hingga sekarang, dan itu adalah kebohongan karena masih ada Pak Syarkowi Sirod.

Para preman ini berdalih, tugas yang mereka emban telah sesuai hukum dan berakta notaris, dengan menunjukkan surat edaran yang dikeluarkan oleh Yayasan Batanghari Sembilan Bandung ber No 01/YBSB-INT/VII/2012 , yang dibantahkan karena surat tersebut terbantahkan tembusannya.

Mahasiswa akhirnya menunjukkan surat balasan Gubernur Sumatera Selatan H. Alex Nurdin, yang menyatakan bahwa Yayasan Batanghari Sembilan Bandung tidak ada hubungannya dengan Yayasan Batanghari Sembilan Sumatera Selatan yang telah bubar. Namun preman preman tersebut tetap menjalankan pekerjaannya, memasang pagar seng, dan menduduki asrama meski hanya dihalaman dan terasnya saja.

Setidaknya ada 50 orang preman yang mengepung asrama, itu klaim mereka, dan sepertinya memang benar, karena saat saya keluar asrama banyak preman berjaga jaga hingga radius 100 meter. Polisi yang datang nyatanya tak bisa mengusir preman tersebut. Mereka menyatakan kebingungannya, karena kedua pihak dianggap memiliki alasan, dan alasan hukum sendiri.


Namun, preman tersebut kembali berulah. Pukul 10:20 pagi 4 Desember,  saat Ahmad Ridwan (Ketua Asrama) hendak mengeluarkan motornya untuk berangkat menuju kampusnya tiba-tiba preman-preman tersebut mendesak masuk kedalam asrama. Alasan mereka hanya untuk memperoleh akses air, karena mereka mengaku dari Yayasan yang menaungi asrama ini.
Ahmad Ridwan (kaos Baseball merah ditengah) sedang berhadapan dengan preman yang menerobos masuk asrama


Segera penghuni asrama mulai heboh, dan kembali menelpon kepolisian yang agak lambat hadir, hingga akhirnya mahasiswa harus beradu argumen dengan preman-preman tersebut, yang membuat preman tersebut mau mundur.

malamnya sekitar pukul 23:30 Sekda Sumsel H. Yusri Efendi, ketua Himpunan Alumni Asrama Mahasiswa SumSel M Tarmizi Madani, dan  Pak Syarkowi Sirod salah satu pengurus Yayasan Batang Hari Sembilan yang masih hidup, juga perwakilan dari Intel mendatangi asrama untuk berdiskusi dan memberikan pengarahan kepada mahasiswa, juga untuk menenangkan mahasiswa yang merasa was-was setiap hari.
Diskusi bersama


Kekhawatiran Mahasiswa bahwa bangunan peninggalan Belanda ini hendak di jual, hal ini dialasani oleh pernyataan ceplos dari Husein Nawawi saat mengajak mahasiswa makan bersama, lagian sikapnya untuk mengusir mahasiswa untuk mengosongkan asrama dengan alasan Renovasi sangat janggal dan mencurigakan, mahasiswa tidak pernah diberikan gambaran atau cetak biru renovasi yang akan dilakukan, jika pun akan direnovasi, mahasiswa meminta agar mereka dipindahkan saja dibelakang bangunan utama yang merupakan bangunan baru, namun permintaan itu ditolak. Meskipun bukan bangunan cagar budaya, bangunan ini khawatirnya akan di robohkan atau malah dijual setelah alih alih direnovasi.



Apa jadinya jika mahasiswa tidak memiliki tempat tinggal??


1 comment:

  1. wah, mslh yg kompleks ya mas? semoga tidak berlarur2 ya!

    ReplyDelete