Thursday, February 7, 2013

Korban Film 5 Cm

Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasaya 
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya 
leher yang akan lebih sering melihat keatas 
lapisan tekad yang 1000 kali lebih keras dari baja. 
Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya 
serta mulut yang akan selalu berdoa
Film memang sebuah karya seni yang paling menginfluence dulu setelah teman saya menonton film "Gie" ia akhirnya masuk kelompok Pecinta Alam , dan akhirnya Desember lalu setelah menonton 5 Cm saya memiliki niat besar untuk mendaki gunung, tampaknya seru, menyenangkan, dan menantang.


Dan kesempatan itu datang ketika teman saya yang terinfluence film Gie dan pernah menjadi anggota pecinta alam itu mengajak saya untuk naik gunung Dempo, seketika saya mengatakan oke. lalu harinya kapan? ntahlah, februari ini saya banyak kerjaan, tanggal 7 kalo bisa sudah sampe Palembang, yaudah besok aja (4 februari) dan teman saya itu terkejut, namun mengiyakan,  kebetulan ada temen satu lagi dateng kerumah, dan langsung saya ajakin juga kakak saya, jadi dengan persiapan yang sedikit namun dirasa pas akhirnya kami berempat berangkat mendaki gunung.


Dengan Bus Telaga Biru (ekonomi 40ribu/orang)dari Palembang kami tiba di Kampung 1 dekat pabrik PTPN 7 PagarAlam sekitar pukul 11 malam, biasanya para pendaki akan menginap dirumah ayah Anton untuk menunggu pagi dan naik truk yang akan membawa para pemetik teh. Namun pilihan kami malam itu adalah langsung membelah perkebunan teh agar sampai ke Kampung 4 paginya dan dapat mendaki paginya lebih awal agar tak sampai kemalaman tiba di puncak.

Namun apadaya, langit yang gelap, tak ada lampu jalan, kami beberapa kali tersesat diantara semak belukar, dari kejauhan kami melihat lampu-lampu perkampungan yang menjadi petunjuk arah satu-satunya.  walau itu nyatanya gagal, dan saat kami tiba di kampung itu, ternyata itu bukan kampung 4 melainkan kampung 2. tepat subuh dini hari. untungnya penduduk kampung 2 sangat ramah, ia menunjukkan kami jalan untuk tiba di kampung 4, yang hanya ditempuh berjalan kaki selama sekitar 30-40 menit.

Setibanya di kampung 4 yang dituju adalah warung, untuk sarapan pagi dan mulai mendaki sekitar jam 9 pagi dari titik awal pendakian di perkebunan teh Kampung 4, saat mendaki saya menirukan dialog dalam film 5 Cm, "Aku Telah menaruh puncak itu disini (sambil ujung telunjuk kanan diletakkan mengambang diantara kedua  mata)"

Singkat cerita, pendakian itu ternyata tak semudah yang saya bayangkan, terlebih ketika kompor yang kami bawa tak bisa menyala karena yang kami bawa bukan gas kaleng untuk masak melainkan untuk isi ulang korek zippo. ditambah lagi ketika pukul setengah 4 sore, hujan tiba-tiba datang saat kami sudah sampai di shelter 2, melihat fisik kami  dan logistik yang ala kadarnya, akhirnya kami memutuskan membangun tenda, dan bermalam disana, dan tak melanjutkan perjalanan ke puncak.

Pendaki Amatir


Malam itu mungkin adalah malam terlama yang saya lewati, kami bangun berkali kali dan pertanyaan yang dilontarkan adalah "Jam berapa sekarang" kondisinya sangat dingin ditambah hujan rintik-rintik, dan ternyata selimut yang sudah saya packing sebelumnya dirumah ternyata gak masuk kedalam ransel, alias tertinggal di Palembang.
di Shelter 1 sebelum kabut misterius itu menyergap kami

Dan ketika kami terbangun di pagi hari, hati begitu senang karena sudah melewatkan malam paling menyeramkan, dan menyiksa itu, yang kami ingin hanya cepat pulang dan sampai rumah.
Sudah, lupakan dulu puncak itu, kami sudah tak tahan. mungkin lain kali, tapi tidak untuk saat ini puncak harus dicapai.

Perlu diketahui diantara kami bertiga, hanya satu orang yang pernah mendaki gunung dempo,  dan ia hanya satu kali pernah sampai kepuncak saat diksar Mapala.
beberapa tips yang menjadi catatan pribadi saya bila ingin mendaki gunung lagi
Pertama, olahraga seminggu sebelum mendaki, agar fisik tak cepat drop.
Kedua, pastikan gas yang dibawa adalah gas untuk masak, dan bukan isi ulang korek,
Ketiga, jangan lupa bawa selimut, kalo perlu ada sleping bag, bawa kaos kaki tebal, jaket hujan, dan bukan sweater.
Keempat, bawa dua sandal lebih baik, pakai sandal/sepatu terbaik. ditengah perjalanan anda akan melihat banyak sepatu atau sandal hancur, bahkan kedua teman seperjalanan saya ini terpaksa menuruni gunung tanpa alas kaki.
Kelima,  jika ingin mengabadikan pendakian dengan kamera, ada baiknya anda bawa saja kamera pocket, ketimbang DSLR yang gak ringan, dan mengganggu selama pendakian ini. toh anda tak akan banyak nafsu memotret, anda hanya ingin cepat sampai, dan cepat turun.

soal perlengkapan lainnya yang harus dibawa, anda bisa searching di googel, dan memikirkannya sendiri, 
Salam Lestari !!!!!

2 comments:

  1. hahaha tipikal amatir emang ya mas! :D

    ReplyDelete
  2. aji dk ngajak ngajak

    ReplyDelete