Friday, November 15, 2013

Sekali-kali Transmusi Harus Dihajar

Sekitar jam 20:00 saya naik Transmusi dari kampus saya di daerah Plaju. Laju transmusi berhenti di halte transit DPRD , beberapa orang penumpang meminta pramugara untuk mengisi saldo smartcardnya (Bus Rapit transit di palembang menggunakan e-tiketing yang disebut smartcard untuk pembayarannya) namun si pramugara menjawab, saldo top upnya habis (alias saldo di mesin pengisinya habis) .

Bus kembali melaju sampai di halte Monpera, disana ada bus besar Ampera-Km12 sedang ngetem. dengan segera saya turun dari pintu depan setelah dibukakan. dan berpindah ke bus besar tersebut. didepan pintu sudah ada mesin typing yang wajib kami typing ulang. *cetet mesin mengeluarkan kata "Transit" kecuali seorang penumpang wanita setelah saya yang berbunyi "kartu belum terdaftar"

saya segera duduk di pojok belakang bus, ini tempat favorit saya. setidaknya ini tempat paling nyaman untuk istirahat bahkan tidur selama perjalanan. Didekat sedang disudut lainnya ada dua orang wanita yang sedang ngobrol asik dengan pegawai transmusi berbaju batik, yang sebut saja "A".


Tiba-tiba si Pegawai Transmusi ini menanyakan kepada penumpang wanita yang kartunya teridentifikasi tidak terdaftar itu . yang sebut saja "B"
A : mbak, mau turun dimana?
B : turun di IP
A : Kartunya itu belum terdaftar, aturannya kami (Transmusi) kalau kartu tidak terdaftar gak boleh naik.
B : Tadi saya di halte DPRD sudah minta gak ada, terus disini minta isiin saldo juga ada.
A : Iya, tapi seharusnya tadi sebelum saldo habis kan mbak isi. saya bisa aja loh ngelarang mbak naik.

Disini saya mulai geram, dan saya tau disini cara saya memulai  mencerca mereka dengan segala unek unek.
Saya : mas, mbak tadi naik dari Plaju, dan saldonya ada meski kurang. makanya bisa naik. tapi kalo di typing lagi pasti kartunya tidak terdaftar, dan mbak ini sudah mau ngisi kartu di dua halte ini tapi sama-sama gak bisa. masak harus disuruh keluar, sedangkan saldonya sudah diambil dan tercatat minus (berhutang) ?
A : gini mas, klo mbak ini naik dipinggir jalan bisa saja kami ngelarang dia naik. disini peraturannya sudah berubah kalo saldo habis, dan kartu tidak tedaftar gak boleh naik.
Saya: iya saya tau, tapi kalau sistemnya seperti itu sarananya juga harus mendukung toh, ini mau isi saldo aja gak ada, kalo saldo kurang malah gak boleh naik.
A : ya setidaknya sebelum saldo habis atau misalnya tadi masih sisah 5000 isi lagi lah sebelum habis. peraturan ini untuk mencegah kecurangan dari penumpang
Saya : (saya mengerenyitkan dahi dan menurunkan sebelah alis mata) maksudnya?
A; ya misalnya dia saldonya kurang, kemudian tidak terdaftar, typing lagi tidak terdaftar. dan dia terus memakai kartu yang tidak terdaftar sebagai modus.
Saya : (saya membatin, cukup masuk akal, namun tak etis mencuriga penumpang seperti itu, bahkan jika saya curang sekalipun, saya tidak pernah pakai cara seperti itu)
Saya : iya, kan gak mesti diusir sih penumpangnya, kan ada tiket one trip yang katanya harganya lebih mahal menjadi Rp 5000 sekali jalan tanpa transit dan cuma di typing sendiri sama pramugara?

berikut saya sertakan buktinya


A : ya itukan cuma wacana.
Saya : (tertawa kecil ) hah? cuma wacana? dan kalian sampai segitunya ngusir penumpang? ayolah sama-sama manusiakan, saling membantu kenapa?
A : ya kalau sekali-kali seperti ini sih gak papa (agaknya dia mulai tertekan)
Saya : lagian gini ya mas, rumah saya di KM 12 dan kampus saya di Plaju. waktu 1 jam itu cuma sampai bawah Jembatan Ampera. dan saya harus transit di halte samping masjid Agung, nunggu secepatnya 10-15menit, saya harus bayar 2X .kasih solusi dong. (saya menangkap ekspresi beberapa penumpang lain mengiyakan ocehan saya)
A : iya mas, harus bayar dua kali (kali ini dia tersenyum, entah senang saya harus bayar dua kali atau mengaminkan sebuah sistem yang korup itu )
Saya : kenapa enggak dua jam lagi sih, atau setidaknya 1,5jam biar saya bisa sampai kampus tanpa bayar dua kali.
A : ya, sekarang kan direksinya baru, walikotanya baru. sistemnya juga baru. kami gak bisa berbuat apa-apa, coba mas liat di kartu yang baru itu ada nomor pengaduan. ngadu aja kesitu
Saya : saya sudah capek itu sms disitu, capek ngomel di facebook transmusi toh gak ada tanggapan positif? coba mas aja sampaiin ke direksinya, sistemnya jangan ngerugiin konsumen gini lah.
A : Gak bisa mas, saya gak bisa apa-apa. apalagi sampe ngomong ke Direksi?
saya : sebenernya masalah transmusi ini apa sih? sampe keliatan parah gini ? (sebenernya saya sudah tau)
A : ya masalah pembiayaan. transmusi lagi kekurang dana. Gaji kami pun belum dibayar sampai sakarang. kami cuma mendapatkan pendanaan dari penjualan saldo ini lah. kan sekarang Transmusi gak dikasih subsidi dari pemkot.
Saya : lah, bukannya dari walikota yang lama (Edi santana) transmusi memang gak pernah dapet Subsidi?
A : (titik hitam matanya melihat kebawah, seolah bingung sendiri dengan kata-katanya, atau justru tersadar ia hampir saja berbohong) iya sih. sekarang aja kan jumlah armada nya dikurangin karena banyak mobil yang rusak belum diperbaiki.
Saya : ( gaji gak dibayar? mending keluar aja, berdagang lebih pasti dapetnya)  terus sekarang saya harus nyalahin siapa atas kekacauan sistem kayak gini? direksinya atau walikotanya? (sambil tertawa kecil yang sebenernya saya ngejek)
A : kita lagi nunggu surat juga dari walikota apa mau di subsidi atau enggak? dulu sih jamannya pak Edy gak kayak gini.
Saya : yaudah saya nyalahin walikotanya aja deh (ketawa ngejek lagi) atau jangan-jangan ada koruptornya.(sampai gaji pegawai gak dibayar)
A : (tampaknya ia mulai sadar saya menggiringnya ke isu yang lebih sensitif) loh ini kok gak jalan-jalan ya?(ia meninggalkan saya dan keluar dari bus)
cukup lama ngetem sambil berdebat, mungkin sekitar 10 menit. dan harus menunggu lagi sampai 15 menit setelah itu hingga bus benar-benar berjalan. dan yang lebih kurang ajarnya lagi setelah perkatan terakhirnya itu saya mengira ia hanya pramugara,justru ia menuju kursi sopir dan mengendarai Bus bernomor K1.15 ini. lalu untuk apa dia bertanya kenapa bus ini tidak jalan-jalan dan meninggalkan kami (para penumpang) cukup lama.?
Setelah menuduh penumpang dapat melakukan kecurangan justru si pramugara yang tampaknya melakukan praktik kecurangan.
saat bus baru melaju mesin typing smartcard di restart (ada knop switch On-Off dibelakan mesin) lalu apa yang terjadi jika mesin di restart?Penumpang yang pertama dan beberapa orang setelahnya akan tersedot saldonya, meski durasi transit belum habis. dan itu benar-benar terjadi.
setelah halte transit Monpera, bus akan menuju halter transit masjid Agung, orang yang naik dari halte masjid agung biasanya adalah penumpang transitan dari Palembang Square atau pusri. hanya ada beberapa orang yang naik, dan semua kartu mereka berbunyi "terima kasih" setelah di tempelkan di mesin.
Ini masih dugaan, karena saya belum bereksperimen secara langsung. hanya berdasarkan pengalaman, bahwa beberapa kali saldo saya terpotong meski waktu transit belum habis. biasanya itu terjadi saat saya naik di halte awal keberangkatan, misalnya dari terminal, atau didepan Mall PS atau PIM. habitnya pramugara akan merestart mesin saat hampir menuju pemberhentian terakhir, ini karena saya pulang di dekat KM 12. saat mesin di restart akan mengeluarkan suara aneh menyeramkan. selain saat dipemberhentian terakhir, mesin juga direstart saat terjadi eror, misalnya kartu yang di typing tidak memberi identifikasi apa apa.

1 comment:

  1. Iya tuh mas aji, kadang waktu transit belum habis saldonya sudah dipotong lagi, bener juga kali ya sering di restart itu trik ngakalin sistem transit. hmm.. klo di restart suka kedengeran suara "failed" gitu kenapa ya? Heran juga.

    ReplyDelete